Pangan dan Pertahanan Negara

Jum'at, 17 Juli 2020 - 07:11 WIB
loading...
A A A
Melihat nilai strategis logistik ini pula Presiden Soekarno menyebut bahwa pangan adalah urusan hidup dan matinya suatu bangsa. Dengan demikian, pangan memiliki banyak dimensi, termasuk soal ketahanan dan pertahanan. Pergolakan yang melanda negara-negara di Timur Tengah sampai saat ini juga berawal dari aksi bunuh diri seorang pedagang buah di Tunisia yang frustrasi pada 17 Desember 2010 lalu.

Saat ini kita memang tidak dalam suasana perang. Tetapi, banyak ahli yang memprediksi bahwa perang masa depan itu adalah perang pangan. Hal ini seakan memutar kembali jarum sejarah. Bukankah kolonialisme bangsa Eropa dahulu termasuk ke Indonesia pada awalnya dimaksudkan untuk mencari komoditas pangan, dalam hal ini rempah-rempah? Kekhawatiran tersebut semakin beralasan kalau kita mencermati perkembangan dan dinamika lingkungan strategis global, regional, dan nasional.

Misalnya, jumlah pertumbuhan penduduk semakin meningkat. Sementara lahan pertanian malah menyusut karena masifnya alih fungsi lahan. Hal ini semakin mempertegas tesis Robert Malthus bahwa pertumbuhan penduduk cenderung melampaui pertumbuhan persediaan makanan. Karena penduduk, menurutnya, tumbuh seperti "deret ukur", sedangkan persediaan makanan bertambah seperti "deret hitung".

Untuk Indonesia yang berdasarkan Hasil Sensus Penduduk 2010 berpenduduk 238,5 juta jiwa misalnya, mengalami laju pertumbuhan penduduk (LPP) sekitar 1,5% per tahun. Sementara konversi lahan sawah untuk kepentingan nonpertanian mencapai rata-rata 100.000 hektare per tahun dan pencetakan sawah baru tidak lebih dari 50.000 hektare per tahun.

Bahkan, tampaknya angka pengurangannya lebih dari itu. Seperti dicatat KORAN SINDO edisi Rabu, 17 Juli 2020, luas panen padi selama tiga tahun belakangan ini menurun secara drastis, yaitu dari 15,79 juta hektare pada 2017, turun menjadi 11,38 juta hektare pada 2018, dan berkurang lagi menjadi 10,68 juta hektare pada 2019. Sementara total produksinya turun dari 81,38 juta ton GKG pada 2017 menjadi 59,2 juta ton GKG dan 54,6 juta ton GKG pada masing-masing tahun 2018 dan 2019.

Turunnya produktivitas ini juga memang tidak lepas dari adanya pemanasan global (global warming) yang menyebabkan perubahan musim menjadi tidak menentu (global climate change). Hal ini tentu semakin membuat tingkat kerawanan pangan secara global semakin mengkhawatirkan, termasuk Indonesia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Ada Perusahaan Menolak...
Ada Perusahaan Menolak Didata Sensus Ekonomi 2026, Siap-siap! Dibina Kemenperin
Video Baru Bongkar Insiden...
Video Baru Bongkar Insiden Final Piala Dunia 2026, Lisandro Martinez Diduga Pukul Gavi
Pembangunan Jalan Tol...
Pembangunan Jalan Tol Akses Pelabuhan Patimban Capai 68%
Berita Terkini
Sebut 108 UU Perlu Diubah,...
Sebut 108 UU Perlu Diubah, Cak Imin: Omnibus Law Ciptaker hingga Agraria
KPK: Sebelum Serahkan...
KPK: Sebelum Serahkan Amplop ke Menhut, Bupati Kuansing Kumpulkan SGD 46.500
PPATK Ungkap Perputaran...
PPATK Ungkap Perputaran Dana Judi Online Turun hingga Rp286,84 Triliun di Era Prabowo
Yane Bima Arya Harap...
Yane Bima Arya Harap Setiap Anak Peroleh Kasih Sayang dan Rasa Aman
90 AKBP Dapat Promosi...
90 AKBP Dapat Promosi Jabatan Jadi Kombes Pol pada Mutasi Juni 2026, Ini Namanya
Samin Tan Cs Segera...
Samin Tan Cs Segera Disidang Kasus Korupsi Tambang
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved