Pangan dan Pertahanan Negara

Jum'at, 17 Juli 2020 - 07:11 WIB
loading...
A A A
Selain fenomena pemanasan global ini, kecenderungan pemanfaatan komoditas pangan untuk keperluan bahan bakar nabati (BBN) atau bahan bakar biologi (biofuel) sebagai pengganti minyak dan gas (migas) juga harus menjadi perhatian bersama. Mengingat banyak komoditas pangan kita bergantung dari impor. Saat ini negara-negara utama pengekspor komoditas pangan mengalihkan sebagian hasil pangan mereka untuk bahan baku pembuatan energi alternatif tersebut.

Belum lagi kalau terjadi bencana global seperti kasus Covid-19 seperti sekarang ini yang membuat sejumlah negara produsen bahkan pangan menghentikan ekspor untuk memenuhi kepentingan dalam negeri sendiri menyusul adanya peringatan ancaman krisis pangan dari organisasi pangan dan pertanian dunia, Food and Agriculture Organization (FAO).

Dengan demikian, ketahanan pangan (food security), kemandirian pangan (food resilience), terutama kedaulatan pangan (food soveregnity) harus menjadi tekad bersama untuk mewujudkannya. Kita tidak ingin negara kita goyah karena kelangkaan pangan. Bila perang konvensional bagi sebagian orang adalah hal yang tidak mungkin terjadi lagi pada masa sekarang ini, meski saya tidak sependapatnya seutuhnya, setidaknya kita semua sepakat bahwa bencana bisa terjadi sewaktu-waktu dan tiba-tiba. Dengan demikian, menyiapkan kesiapan cadangan logistik pangan mutlak untuk dilakukan, bahkan perlahan cadangan logistik obat-obatan dan energi pun perlu disiapkan sejak dini dan harus dimulai saat ini.

Karena itu, pengembangan lumbung pangan (food estate) di Kalimantan Tengah seluas 165.000 hektare yang saat ini disiapkan pemerintah patut disambut baik dan diberi dukungan. Terlebih inisiasi pencanangan lumbung pangan oleh Presiden Joko Widodo ini berangkat dari perspektif pertahanan. Hal ini ditandai dengan penunjukan Kementerian Pertahanan sebagai leading sector, di mana kebijakan umum pertahanan negara ada di tangan Presiden dan Presiden bisa menetapkan orientasi kebijakan politik pertahanan negara.

Melalui penunjukan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebagai pimpinan pengembangan food estate, ada sinyalemen bahwa Presiden ingin mengembangkan pertahanan kuat yang berdimensi holistik melalui penguatan pertahanan militer dan nonmiliter sekaligus.

Itu artinya, pemerintah, dalam hal ini Presiden, semakin menyadari bahwa pemenuhan hak pangan rakyat merupakan masalah strategis. Menyangkut jatuh bangunnya sebuah bangsa. Maka, menjaga benteng pertahanan melalui kesiapan cadangan logistik strategis perlu dilakukan sedini mungkin.
(ras)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Video Baru Bongkar Insiden...
Video Baru Bongkar Insiden Final Piala Dunia 2026, Lisandro Martinez Diduga Pukul Gavi
Dinkes Apresiasi Operasi...
Dinkes Apresiasi Operasi Bibir Sumbing Gratis MNC Peduli dan RS Azra Bogor
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
Berita Terkini
Sebut 108 UU Perlu Diubah,...
Sebut 108 UU Perlu Diubah, Cak Imin: Omnibus Law Ciptaker hingga Agraria
KPK: Sebelum Serahkan...
KPK: Sebelum Serahkan Amplop ke Menhut, Bupati Kuansing Kumpulkan SGD 46.500
PPATK Ungkap Perputaran...
PPATK Ungkap Perputaran Dana Judi Online Turun hingga Rp286,84 Triliun di Era Prabowo
Yane Bima Arya Harap...
Yane Bima Arya Harap Setiap Anak Peroleh Kasih Sayang dan Rasa Aman
90 AKBP Dapat Promosi...
90 AKBP Dapat Promosi Jabatan Jadi Kombes Pol pada Mutasi Juni 2026, Ini Namanya
Samin Tan Cs Segera...
Samin Tan Cs Segera Disidang Kasus Korupsi Tambang
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved