Langkah Terpuji Zainudin Amali
Rabu, 22 Februari 2023 - 11:32 WIB
loading...
Langkah Zainudin Amali yang menyatakan akan mengundurkan diri dari jabatan Menpora setelah terpilih sebagai Wakil Ketua Umum PSSI layak diapresiasi. (KORAN SINDO/Wawan Bastian)
A
A
A
MENTERI Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali membuat langkah tak biasa. Dia memilih mundur sebagai menteri demi ingin berkonsentrasi sebagai pengurus Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) hasil Kongres Luar Biasa, Kamis (16/2) pekan lalu.
Di PSSI, Amali memang berada di posisi inti. Dalam kongres yang digelar di Jakarta itu, Amali terpilih sebagai wakil ketua umum PSSI bersama Ratu Tisha. Keduanya menjadi wakil Erick Thohir yang terpilih sebagai ketua umum PSSI baru periode 2023-2027 menggantikan Mochammad Iriawan.
Baca berita menarik lain di e-paper koran-sindo.com
Langkah Amali yang berani mundur ini seolah mengetuk kesadaran publik. Seperti yang kita ketahui bersama, umumnya orang akan keberatan jika harus melepaskan jabatan yang begitu terhormat seperti menteri. Bahkan yang kerap terjadi, satu jabatan menteri tak cukup. Mereka berupaya keras menambah jabatan-jabatan lain, tentu dengan berbagai cara seperti pendekatan kekuasaan, modal, hingga personal demi meraih jabatan yang diincar itu.
Dilihat dari perspektik sistem demokrasi yang kita anut, tentu cara demikian tak menyalahi aturan. Namun jika ini dibiarkan, hakikatnya nilai dan subtansi demokrasi sebenarnya rawan tergerus. Keadilan (justice) yang ingin diwujudkan dari demokrasi jelas sulit terwujud dengan baik jika seseorang merangkap-rangkap jabatan strategis. Ini beralasan sebab manusia sejatinya secara kodrat memiliki banyak keterbatasan.
Namun nafsu duniawilah yang kerap menggoda seseorang untuk bisa melakukan atau menguasai banyak hal di tengah keterbatasan itu.
Di PSSI, Amali memang berada di posisi inti. Dalam kongres yang digelar di Jakarta itu, Amali terpilih sebagai wakil ketua umum PSSI bersama Ratu Tisha. Keduanya menjadi wakil Erick Thohir yang terpilih sebagai ketua umum PSSI baru periode 2023-2027 menggantikan Mochammad Iriawan.
Baca berita menarik lain di e-paper koran-sindo.com
Langkah Amali yang berani mundur ini seolah mengetuk kesadaran publik. Seperti yang kita ketahui bersama, umumnya orang akan keberatan jika harus melepaskan jabatan yang begitu terhormat seperti menteri. Bahkan yang kerap terjadi, satu jabatan menteri tak cukup. Mereka berupaya keras menambah jabatan-jabatan lain, tentu dengan berbagai cara seperti pendekatan kekuasaan, modal, hingga personal demi meraih jabatan yang diincar itu.
Dilihat dari perspektik sistem demokrasi yang kita anut, tentu cara demikian tak menyalahi aturan. Namun jika ini dibiarkan, hakikatnya nilai dan subtansi demokrasi sebenarnya rawan tergerus. Keadilan (justice) yang ingin diwujudkan dari demokrasi jelas sulit terwujud dengan baik jika seseorang merangkap-rangkap jabatan strategis. Ini beralasan sebab manusia sejatinya secara kodrat memiliki banyak keterbatasan.
Namun nafsu duniawilah yang kerap menggoda seseorang untuk bisa melakukan atau menguasai banyak hal di tengah keterbatasan itu.
Lihat Juga :