Politikus PKS Ini Bicara tentang Kopi Gayo di Tengah Pandemi
Rabu, 15 Juli 2020 - 21:04 WIB
loading...
A
A
A
Lalu, yang boleh memperoleh resi gudang hanya kelompok tani/koperasi, tidak boleh individu (usaha pribadi). Selain itu, syarat batas minimum volume kopi untuk disimpan yaitu 1 ton. Umumnya keluarga di Gayo menyimpan kopi di rumah sejumlah 100 Kg, mereka harus menggabungkan stok kopinya dengan keluarga lain atau membentuk kelompok lain, sebuah upaya yang tidak mudah dan berlangsung cepat.
Sebagai wakil rakyat Aceh di Komisi VI DPR RI yang mengawasi ruang lingkup tugas bidang Perindustrian, Perdagangan, Koperasi UKM, BUMN, Investasi dan Standarisasi Nasional, dirinya merasa terpanggil untuk dapat menyuarakan kepentingan masyarakat Gayo dalam perluasan penerapan SRG ini.
"Insya Allah, jika upaya ini didukung oleh segenap masyarakat Aceh, para anggota forbes, lebih khusus lagi pemerintah Aceh dengan BUMD-nya, perjuangan ini akan semakin dikuatkan dan dapat diterima oleh pembuat kebijakan di tingkat nasional dalam hal ini mitra kami kerja kami Komis VI DPR RI, Kementerian Keuangan dan OJK," katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, ada beberapa rekomendasi dan kebutuhan yang kita harus perjuangkan bersama- sama dalam rangka penguatan dan sustainibility pelaku kopi di Gayo antara lain peningkatan plafon pembiayaan untuk Resi Gudang, dari yang sekarang masih di kisaran Rp20 Miliar menjadi minimal Rp200 Miliar, sesuai dengan kapasitas gudang- gudang yang sudah disahkan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI)-Kemendag.
"Kita juga harus memperjuangkan agar ekspor Kopi Gayo harus dapat dilakukan melalui pelabuhan- pelabuhan yang ada di Aceh, sehingga akan lebih menjamin kualitas dan standar seperti yang diinginkan para buyer, hal tersebut juga akan memberikan dampak signifikan bagi perputaran uang daerah," imbuhnya.
Dia melanjutkan, para pelaku ekspor Kopi Gayo juga menginginkan pelabuhan yang ditunjuk berupa dry port, dimana komoditas yang akan dikirim tidak dapat lagi diutak atik dan sesuai dengan yang dilepaskan oleh produsen. Kehadiran SRG yang lebih luas juga diyakininya sangat bermanfaat untuk menjaga harga kopi tidak jatuh dan para petani tidak terjebak untuk menggantungkan kehidupannya kepada para tengkulak dan lintah darat yang tidak sesuai dengan nilai- nilai keadilan dan keislaman.
"Mudah- mudahan tulisan ini mengilhami banyak pihak untuk sama- berjuang agar kebangkitan ekonomi Aceh menghadapi pandemi dapat diraih dengan mengandalkan Kopi Gayo. Masyarakat Aceh pada umumnya juga akan terbantu karena perputaran uang yang besar serta tidak hanya berharap dari APBN/APBA yang penggunaannya lebih tepat untuk pembiayaan pembangunan dan infrastruktur," pungkasnya.
Sebagai wakil rakyat Aceh di Komisi VI DPR RI yang mengawasi ruang lingkup tugas bidang Perindustrian, Perdagangan, Koperasi UKM, BUMN, Investasi dan Standarisasi Nasional, dirinya merasa terpanggil untuk dapat menyuarakan kepentingan masyarakat Gayo dalam perluasan penerapan SRG ini.
"Insya Allah, jika upaya ini didukung oleh segenap masyarakat Aceh, para anggota forbes, lebih khusus lagi pemerintah Aceh dengan BUMD-nya, perjuangan ini akan semakin dikuatkan dan dapat diterima oleh pembuat kebijakan di tingkat nasional dalam hal ini mitra kami kerja kami Komis VI DPR RI, Kementerian Keuangan dan OJK," katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, ada beberapa rekomendasi dan kebutuhan yang kita harus perjuangkan bersama- sama dalam rangka penguatan dan sustainibility pelaku kopi di Gayo antara lain peningkatan plafon pembiayaan untuk Resi Gudang, dari yang sekarang masih di kisaran Rp20 Miliar menjadi minimal Rp200 Miliar, sesuai dengan kapasitas gudang- gudang yang sudah disahkan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI)-Kemendag.
"Kita juga harus memperjuangkan agar ekspor Kopi Gayo harus dapat dilakukan melalui pelabuhan- pelabuhan yang ada di Aceh, sehingga akan lebih menjamin kualitas dan standar seperti yang diinginkan para buyer, hal tersebut juga akan memberikan dampak signifikan bagi perputaran uang daerah," imbuhnya.
Dia melanjutkan, para pelaku ekspor Kopi Gayo juga menginginkan pelabuhan yang ditunjuk berupa dry port, dimana komoditas yang akan dikirim tidak dapat lagi diutak atik dan sesuai dengan yang dilepaskan oleh produsen. Kehadiran SRG yang lebih luas juga diyakininya sangat bermanfaat untuk menjaga harga kopi tidak jatuh dan para petani tidak terjebak untuk menggantungkan kehidupannya kepada para tengkulak dan lintah darat yang tidak sesuai dengan nilai- nilai keadilan dan keislaman.
"Mudah- mudahan tulisan ini mengilhami banyak pihak untuk sama- berjuang agar kebangkitan ekonomi Aceh menghadapi pandemi dapat diraih dengan mengandalkan Kopi Gayo. Masyarakat Aceh pada umumnya juga akan terbantu karena perputaran uang yang besar serta tidak hanya berharap dari APBN/APBA yang penggunaannya lebih tepat untuk pembiayaan pembangunan dan infrastruktur," pungkasnya.
(maf)
Lihat Juga :