Bertampang Bule, Ajudan Jenderal Ini Nyamar Jadi Turis Mata-Matai Inggris dan Malaysia
Rabu, 25 Januari 2023 - 06:10 WIB
loading...
A
A
A
Penyebabnya tak lain karena Bung Karno menentang berdirinya Negara Malaysia yang dinilai hanya akan menjadi boneka Inggris dan neo kolonialisme atau singkat kata berdirinya Negeri Jiran tersebut hanya akan menjadi pangkalan militer asing di Asia Tenggara. Bahkan, setelah diumumkan Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio pada 20 Januari 1963, para sukarelawan rakyat mulai mengeksekusi dengan masuk ke wilayah Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda serta melakukan penyerangan dan sabotase.
Kebetulan yang tak disangka-sangka, pada tahun yang sama dengan seruan ganyang Malaysia dilancarkan, sepucuk surat diterima Pierre. Ia baru setahun lulus dengan menyandang pangkat letnan dua dan belum lama memangku jabatan sebagai komandan peleton. Isinya tak lain adalah perintah untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) Bogor, sebagai persiapan menjalani tugas dan tanggung jawab yang telah diperhitungkan.
Pierre sadar betul sebagai seorang prajurit akan kesiapannya menghadapi segala kemungkinan termasuk tugas-tugas dan panggilan negara. Terlebih penunjukan dirinya sebagai salah satu perwira muda yang ikut dalam pendidikan intelijen merupakan kesempatan langka yang tak sembarangan orang bisa mendapatkannya.
Tak main-main, Letda Pierre kala itu menjadi salah satu siswa termuda, baik dari segi usia maupun pengalamannya. Sementara siswa lain yang juga diberi kesempatan mengenyam pendidikan intelijen dengannya merupakan para prajurit yang notabene sudah memiliki jam terbang tinggi.
Predikat 'memuaskan' pun berhasil diperoleh Pierre ketika dinyatakan lulus dari STIN dengan masa pendidikan yang ditempuh selama satu tahun. Banyak tugas dan prestasi Pierre yang baru diketahui keluarga setelah ia gugur.
Entah sebuah kebetulan yang tiba-tiba atau justru sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari, setelah lulus ia memang harus langsung siap siaga untuk ditugaskan ke medan pertempuran. Pada 3 Mei 1964, Presiden Soekarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) sebagai bagian dari konfrontasi melawan Malaysia dan Inggris.
Kebetulan yang tak disangka-sangka, pada tahun yang sama dengan seruan ganyang Malaysia dilancarkan, sepucuk surat diterima Pierre. Ia baru setahun lulus dengan menyandang pangkat letnan dua dan belum lama memangku jabatan sebagai komandan peleton. Isinya tak lain adalah perintah untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) Bogor, sebagai persiapan menjalani tugas dan tanggung jawab yang telah diperhitungkan.
Pierre sadar betul sebagai seorang prajurit akan kesiapannya menghadapi segala kemungkinan termasuk tugas-tugas dan panggilan negara. Terlebih penunjukan dirinya sebagai salah satu perwira muda yang ikut dalam pendidikan intelijen merupakan kesempatan langka yang tak sembarangan orang bisa mendapatkannya.
Tak main-main, Letda Pierre kala itu menjadi salah satu siswa termuda, baik dari segi usia maupun pengalamannya. Sementara siswa lain yang juga diberi kesempatan mengenyam pendidikan intelijen dengannya merupakan para prajurit yang notabene sudah memiliki jam terbang tinggi.
Predikat 'memuaskan' pun berhasil diperoleh Pierre ketika dinyatakan lulus dari STIN dengan masa pendidikan yang ditempuh selama satu tahun. Banyak tugas dan prestasi Pierre yang baru diketahui keluarga setelah ia gugur.
Entah sebuah kebetulan yang tiba-tiba atau justru sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari, setelah lulus ia memang harus langsung siap siaga untuk ditugaskan ke medan pertempuran. Pada 3 Mei 1964, Presiden Soekarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) sebagai bagian dari konfrontasi melawan Malaysia dan Inggris.
Lihat Juga :