Asupan Telur dan Ikan untuk Generasi Emas
Sabtu, 21 Januari 2023 - 19:16 WIB
loading...
Kasus stunting harus menjadi perhatian para pemangku kepentingan. FOTO/WAWAN BASTIAN
A
A
A
“Mari berikan asupan hewani seperti susu, daging, telur dan ikan untuk mencegah stunting”. Seruan yang disampaikan Plt Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu Anak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Ni Made Diah merupakan pesan utama dalam peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) yang jatuh setiap 25 Januari.
Pesan pentingnya gizi bagi anak sekilas memang klise. Seruan itu kerap digaungkan setiap jelang HGN yang memang diarahkan untuk memupuk kepedulian masyarakat akan pentingnya memenuhi nutrisi sehat dan seimbang serta menciptakan produksi pangan berkelanjutan. Namun, apabila ditilik dari realitas di lapangan, seruan ini memang harus terus disampaikan, terutama melihat kasus stunting di Tanah Air.
Kendati berdasarkan laporan terakhir Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan tren penurunan, dari 30,8% pada 2018 menjadi 24,4% pada 2022, angka stunting tersebut terbilang tinggi. Apalagi dibandingkan dengan negara di kawasan ASEAN. Prevalensi stunting di Indonesia ternyata masih lebih tinggi dari Vietnam (23%), Malaysia (17%), Thailand (16%), dan Singapura (4%).
Jika diilustrasikan, angka stunting 24,4% berarti satu dari empat atau sekitar lima juta anak Indonesia mengalami stunting. Gangguan tumbuh kembang anak akibat kurangnya asupan gizi atau infeksi berulang tersebut memiliki implikasi fatal. Yakni, bukan hanya menghambat Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sebagai negara sehat berprestasi, tapi juga target Indonesia Emas yang diharapkan bisa tercapai pada 2045.
Salah satu variabel terpenting terwujudnya Indonesia Emas adalah bagaimana negeri ini pada 2045 bisa memaksimalkan bonus demografi. Pada saat itu yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun). Sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun).
Pesan pentingnya gizi bagi anak sekilas memang klise. Seruan itu kerap digaungkan setiap jelang HGN yang memang diarahkan untuk memupuk kepedulian masyarakat akan pentingnya memenuhi nutrisi sehat dan seimbang serta menciptakan produksi pangan berkelanjutan. Namun, apabila ditilik dari realitas di lapangan, seruan ini memang harus terus disampaikan, terutama melihat kasus stunting di Tanah Air.
Kendati berdasarkan laporan terakhir Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan tren penurunan, dari 30,8% pada 2018 menjadi 24,4% pada 2022, angka stunting tersebut terbilang tinggi. Apalagi dibandingkan dengan negara di kawasan ASEAN. Prevalensi stunting di Indonesia ternyata masih lebih tinggi dari Vietnam (23%), Malaysia (17%), Thailand (16%), dan Singapura (4%).
Jika diilustrasikan, angka stunting 24,4% berarti satu dari empat atau sekitar lima juta anak Indonesia mengalami stunting. Gangguan tumbuh kembang anak akibat kurangnya asupan gizi atau infeksi berulang tersebut memiliki implikasi fatal. Yakni, bukan hanya menghambat Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sebagai negara sehat berprestasi, tapi juga target Indonesia Emas yang diharapkan bisa tercapai pada 2045.
Salah satu variabel terpenting terwujudnya Indonesia Emas adalah bagaimana negeri ini pada 2045 bisa memaksimalkan bonus demografi. Pada saat itu yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun). Sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun).
Lihat Juga :