Wakil Ketua MPR Tekankan Pentingnya Kebijakan Strategis Hadapi Ketidakpastian Global
Rabu, 11 Januari 2023 - 19:36 WIB
Baca juga: KUHP Baru Picu Pro dan Kontra, Wakil Ketua MPR: Perlu Dibuka Ruang Diskusi
“Diperlukan optimisme dan konsistensi kerja serta kebijakan strategis untuk berbenah, meningkatkan ekonomi nasional demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar anggota Majelis Tinggi Partai Nasdem ini.
Senada, Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko berpendapat kondisi data analisis ekonomi dan implementasinya sangat dinamis. Pada kondisi baru keluar dari pandemi, tambah Agustinus, inflasi tinggi dinilai otoritas moneter merupakan kondisi yang biasa.
Namun, ada variabel penting yang tidak diduga seperti geopolitik yang mengakibatkan harga energi dan pangan naik drastis sehingga mengakibatkan inflasi yang lebih permanen. ”Apa pun kebijakan yang diambil akan mengarah pada kenaikan suku bunga yang cepat dan bernilai besar secara signifikan,” katanya.
Dampaknya, ujarnya, akan terjadi koreksi pertumbuhan dengan terjadinya stagflasi dan potensi resesi, seberapa panjang dan dalamnya masih sangat dinamis. Namun, kondisi tersebut akan lebih permanen dan ekonomi global tidak akan sama seperti sebelumnya. Rezim efesiensi akan bergeser pada upaya agar resiliensi.
“Ada beberapa hal yang akan menekan pasar likuiditas Indonesia, antara lain disebabkan nilai tukar mata uang yang cukup tinggi di kisaran Rp15.000 per USD, cadangan devisa terkuras untuk tekan dinamika pasar. Meski begitu, sektor perdagangan kita diuntungkan karena ada peningkatan demand komoditas. Sejumlah upaya seperti relokasi investasi dan hilirisasi akan mendukung perekonomian Indonesia lebih resiliensi,” ucapnya.
Kepala Ekonom PT. Bank Central Asia David Sumual mengungkapkan komoditas akan mempengaruhi perekonomian Indonesia. Batubara, masih jadi tumpuan pertumbuhan komoditas sepanjang 2022, neraca transaksi berjalan cukup besar berkisar 0,5%-1, 3%. "Harga komoditas Indonesia sangat baik, tetapi hasil ekspornya belum maksimal," ujar David.
“Diperlukan optimisme dan konsistensi kerja serta kebijakan strategis untuk berbenah, meningkatkan ekonomi nasional demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar anggota Majelis Tinggi Partai Nasdem ini.
Senada, Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko berpendapat kondisi data analisis ekonomi dan implementasinya sangat dinamis. Pada kondisi baru keluar dari pandemi, tambah Agustinus, inflasi tinggi dinilai otoritas moneter merupakan kondisi yang biasa.
Namun, ada variabel penting yang tidak diduga seperti geopolitik yang mengakibatkan harga energi dan pangan naik drastis sehingga mengakibatkan inflasi yang lebih permanen. ”Apa pun kebijakan yang diambil akan mengarah pada kenaikan suku bunga yang cepat dan bernilai besar secara signifikan,” katanya.
Dampaknya, ujarnya, akan terjadi koreksi pertumbuhan dengan terjadinya stagflasi dan potensi resesi, seberapa panjang dan dalamnya masih sangat dinamis. Namun, kondisi tersebut akan lebih permanen dan ekonomi global tidak akan sama seperti sebelumnya. Rezim efesiensi akan bergeser pada upaya agar resiliensi.
“Ada beberapa hal yang akan menekan pasar likuiditas Indonesia, antara lain disebabkan nilai tukar mata uang yang cukup tinggi di kisaran Rp15.000 per USD, cadangan devisa terkuras untuk tekan dinamika pasar. Meski begitu, sektor perdagangan kita diuntungkan karena ada peningkatan demand komoditas. Sejumlah upaya seperti relokasi investasi dan hilirisasi akan mendukung perekonomian Indonesia lebih resiliensi,” ucapnya.
Kepala Ekonom PT. Bank Central Asia David Sumual mengungkapkan komoditas akan mempengaruhi perekonomian Indonesia. Batubara, masih jadi tumpuan pertumbuhan komoditas sepanjang 2022, neraca transaksi berjalan cukup besar berkisar 0,5%-1, 3%. "Harga komoditas Indonesia sangat baik, tetapi hasil ekspornya belum maksimal," ujar David.
Lihat Juga :