Survei Kepuasan Penanganan Corona, Publik Belum Puas Kinerja Pusat
Senin, 13 Juli 2020 - 08:09 WIB
Aspek kepuasan ini diukur dari beberapa parameter. Antara lain mayoritas publik mengaku puas dengan informasi protokol kesehatan mencapai 73,3%, disusul perawatan pasien Covid-19 sebesar 72,3%, dan bantuan sosial 56,2%. Berikutnya pemulihan ekonomi hanya diapresiasi 48,2%, ketegasan bagi yang melanggar protokol kesehatan 47,3%, Kartu Prakerja 39,2%, dan penanganan pemutusan hubungan kerja (PHK) hanya 31,9%.
“Ternyata tingkat kepuasan publik terhadap program Kartu Prakerja rendah. Penanganan PHK juga rendah karena banyak masyarakat yang terkena. Bagi mereka yang melanggar protokol kesehatan juga belum ada ketegasan. Soal pemulihan ekonomi juga belum diapresiasi,” paparnya.
Bahkan, kata Hasan, tingkat optimisme publik terhadap kondisi ekonomi Indonesia juga turun, hanya berada di angka di atas 50%, tepatnya 63,5%. Kondisi ini turun dibanding survei pada Oktober 2019 yang berada di angka 71,0%.
Rinciannya, sangat optimistis sekali 2,9%, sangat optimistis 8,4%, optimistis 52,2%, pesimistis 28,1%, sangat pesimistis 4,7%, dan sangat pesimistis sekali 3,8%. (Baca juga: 36 ekor Penyu Langka Diselundupkan ke Bali)
“Angka ini tidak membuat kita happy karena sebelumnya survei terhadap optimisme publik selalu di atas 70%, bahkan pernah 80%. Ini perlu dijaga agar tingkat optimisme ini tidak turun. Tingkat optimisme itu semakin tinggi semakin baik karena di situ roda ekonomi akan bergerak,” katanya.
Hasan mengatakan sejak terjadi pandemi Covid-19 di Indonesia awal Maret 2020, Alvara rutin melakukan riset untuk melihat pandangan masyarakat terkait Covid-19 dan dampaknya yang dirasakan secara riil oleh masyarakat.
“Ternyata tingkat kepuasan publik terhadap program Kartu Prakerja rendah. Penanganan PHK juga rendah karena banyak masyarakat yang terkena. Bagi mereka yang melanggar protokol kesehatan juga belum ada ketegasan. Soal pemulihan ekonomi juga belum diapresiasi,” paparnya.
Bahkan, kata Hasan, tingkat optimisme publik terhadap kondisi ekonomi Indonesia juga turun, hanya berada di angka di atas 50%, tepatnya 63,5%. Kondisi ini turun dibanding survei pada Oktober 2019 yang berada di angka 71,0%.
Rinciannya, sangat optimistis sekali 2,9%, sangat optimistis 8,4%, optimistis 52,2%, pesimistis 28,1%, sangat pesimistis 4,7%, dan sangat pesimistis sekali 3,8%. (Baca juga: 36 ekor Penyu Langka Diselundupkan ke Bali)
“Angka ini tidak membuat kita happy karena sebelumnya survei terhadap optimisme publik selalu di atas 70%, bahkan pernah 80%. Ini perlu dijaga agar tingkat optimisme ini tidak turun. Tingkat optimisme itu semakin tinggi semakin baik karena di situ roda ekonomi akan bergerak,” katanya.
Hasan mengatakan sejak terjadi pandemi Covid-19 di Indonesia awal Maret 2020, Alvara rutin melakukan riset untuk melihat pandangan masyarakat terkait Covid-19 dan dampaknya yang dirasakan secara riil oleh masyarakat.
Lihat Juga :