Maruarar Sirait Ajak OKP Cegah Politik Identitas di Pemilu 2024
Jum'at, 23 Desember 2022 - 21:05 WIB
"Saya Batak, Kristen, menang tiga periode dengan ratusan ribu suara di daerah dengan mayoritas Islam. Jadi saya menemukan, rasakan, dan alami nilai Pancasila di dapil saya. Pancasila bukan hanya ide dan gagasan. Harus berbagi, berbuat dengan hati dan tindakan dimulai diri sendiri kepada sesama," tuturnya.
Ara mengaku dia tidak akan maju dalam Pemilu 2024. Ara mendorong anak-anak muda lebih banyak berkiprah di kancah politik. Anak muda harus memberi dampak positif.
"Saya nggak maju nyaleg. Kita tahu waktunya datang dan waktunya mendorong dari belakang. Regenerasi harus diteruskan. Harus bermanfaat bagi rakyat dan jangan lupa pada partai yang membesarkan," tuturnya.
Sementara itu, Pendiri Syaiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Prof Dr Saiful Mujani mengungkapkan politik identitas sumbernya adalah belum mampunya mentransformasi identitas sosial ke identitas politik. Identitas politik masih jadi subordinasi dari identitas sosial.
Dia mencontohkan identitas sosial di Amerika Serikat yang sudah bertransformasi. Joe Biden dan Barack Obama bukan dilihat sebagai Katolik dan orang Afro, tetapi sebagai politisi Demokrat. Di Inggris, Perdana Menteri saat ini tidak dilihat orang etnik India tetapi dari partai konservatif.
"Di Indonesia, orang tidak Islam, tidak akan berani nyapres. Bung Ara bakal mikir seribu kali kalau mau jadi Presiden atau Gubernur Sumut. Karena beliau bukan Islam," sebutnya.
Ke depan, dilihat dari kekuatan politik formal di tingkatkan elite, mestinya Indonesia optimistis tak akan pecah karena politik identitas di 2024. Namun, diingatkan, selama tidak ada perbedaan yang mendasar platform antara calon satu dengan yang lain, maka akan muncul politik identitas.
Ara mengaku dia tidak akan maju dalam Pemilu 2024. Ara mendorong anak-anak muda lebih banyak berkiprah di kancah politik. Anak muda harus memberi dampak positif.
"Saya nggak maju nyaleg. Kita tahu waktunya datang dan waktunya mendorong dari belakang. Regenerasi harus diteruskan. Harus bermanfaat bagi rakyat dan jangan lupa pada partai yang membesarkan," tuturnya.
Sementara itu, Pendiri Syaiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Prof Dr Saiful Mujani mengungkapkan politik identitas sumbernya adalah belum mampunya mentransformasi identitas sosial ke identitas politik. Identitas politik masih jadi subordinasi dari identitas sosial.
Dia mencontohkan identitas sosial di Amerika Serikat yang sudah bertransformasi. Joe Biden dan Barack Obama bukan dilihat sebagai Katolik dan orang Afro, tetapi sebagai politisi Demokrat. Di Inggris, Perdana Menteri saat ini tidak dilihat orang etnik India tetapi dari partai konservatif.
"Di Indonesia, orang tidak Islam, tidak akan berani nyapres. Bung Ara bakal mikir seribu kali kalau mau jadi Presiden atau Gubernur Sumut. Karena beliau bukan Islam," sebutnya.
Ke depan, dilihat dari kekuatan politik formal di tingkatkan elite, mestinya Indonesia optimistis tak akan pecah karena politik identitas di 2024. Namun, diingatkan, selama tidak ada perbedaan yang mendasar platform antara calon satu dengan yang lain, maka akan muncul politik identitas.
Lihat Juga :