Anggota DPR Sentil Orang Tua yang Eksploitasi Anak Lewat TikTok
Jum'at, 09 Desember 2022 - 16:32 WIB
Christina pernah melihat seorang anak berkebutuhan khusus yang diajak ibunya melakukan siaran langsung atau live TikTok mengharapkan hadiah dari penonton. "Kesannya memang berharap ada rasa iba melihat kondisi anak tersebut, tapi di sisi lain ini menjadi cara lain eksploitasi anak oleh orang tuanya untuk kepentingan ekonomi. Fenomena ini patut kita waspadai dan menjadi perhatian bersama," imbuhnya.
Kemudian, dia juga mencermati bentuk lain seperti konten orang tua melakukan prank terhadap anak balita yang juga banyak terjadi. "Disangkanya menghibur bagi orang dewasa karena melihat anak kecil tersebut menangis ketika di-prank atau lebih tepatnya ditakut-takuti, tapi bagi anak hal ini berbekas dan meninggalkan trauma,” tuturnya.
Konten tersebut, kata dia, sempat viral. “Dan ini bentuk lain kekerasan dan eksploitasi terhadap anak juga. Intinya masyarakat jangan latah dan harus bijak, pikirkan yang terbaik untuk anak," tegasnya.
Kendati demikian, dia melihat ada juga konten positif terkait anak bersama ibu atau ayahnya yang perlu dipresiasi karena memberikan pendidikan terkait tumbuh kembang anak. "Tapi intinya jangan sampai anak dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi yang sifatnya eksploitatif. Ini kita perlu awasi bersama," ucapnya.
Christina berharap agar peran serta masyarakat semakin aktif dan adanya peningkatan kesadaran untuk melawan praktik-praktik eksploitasi anak yang masih marak terjadi. "Kita temukan di jalanan masih cukup banyak, minimal kita perlu pendekatan untuk memastikan pada orang tuanya agar tidak melakukan praktik ini. Atau jika terkait sindikat, maka harus melapor ke aparat penegak hukum,” kata Christina.
Kemudian, dia juga mencermati bentuk lain seperti konten orang tua melakukan prank terhadap anak balita yang juga banyak terjadi. "Disangkanya menghibur bagi orang dewasa karena melihat anak kecil tersebut menangis ketika di-prank atau lebih tepatnya ditakut-takuti, tapi bagi anak hal ini berbekas dan meninggalkan trauma,” tuturnya.
Konten tersebut, kata dia, sempat viral. “Dan ini bentuk lain kekerasan dan eksploitasi terhadap anak juga. Intinya masyarakat jangan latah dan harus bijak, pikirkan yang terbaik untuk anak," tegasnya.
Kendati demikian, dia melihat ada juga konten positif terkait anak bersama ibu atau ayahnya yang perlu dipresiasi karena memberikan pendidikan terkait tumbuh kembang anak. "Tapi intinya jangan sampai anak dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi yang sifatnya eksploitatif. Ini kita perlu awasi bersama," ucapnya.
Christina berharap agar peran serta masyarakat semakin aktif dan adanya peningkatan kesadaran untuk melawan praktik-praktik eksploitasi anak yang masih marak terjadi. "Kita temukan di jalanan masih cukup banyak, minimal kita perlu pendekatan untuk memastikan pada orang tuanya agar tidak melakukan praktik ini. Atau jika terkait sindikat, maka harus melapor ke aparat penegak hukum,” kata Christina.
Lihat Juga :