Di Hadapan Tokoh Dunia, AHY Sampaikan 3 Pandangan Cegah Mega Krisis di Masa Depan

Rabu, 02 November 2022 - 13:31 WIB
Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengikuti rangkaian dialog pada pertemuan para mantan kepala negara yang tergabung dalam Club de Madrid (CdM) di Berlin. Foto/Istimewa
BERLIN - Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sudah dua hari mengikuti rangkaian dialog pada pertemuan para mantan kepala negara yang tergabung dalam Club de Madrid (CdM) di Berlin. AHY mengatakan jika forum tersebut telah mencapai kesepakatan bahwa dunia memang sedang mengalami krisis multidimensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Spektrumnya sangat luas, mulai dari perang di Ukraina, geopolitik dan keamanan internasional, krisis energi, perubahan iklim, komitmen net-zero, krisis pangan global, krisis utang, hingga peran lembaga multilateral yang semakin berkurang,” ujar AHY di hadapan para tokoh dunia pada sesi ke-VI forum diskusi di Bertelsmann Representation, Unter den Linden 1, Berlin, Selasa (1/11/2022) waktu setempat. Baca juga: Demokrat: Restu Surya Paloh ke AHY Jadi Cawapres Anies Lecut Semangat



Untuk mencegah krisis ini terjadi semakin jauh, menurut AHY tidak ada cara ajaib untuk menyelesaikan. “Tidak ada resep rahasia. Namun izinkan saya untuk menyampaikan tiga catatan yang saya yakin akan sangat penting bagi upaya kita dalam membekali diri untuk mencegah krisis terjadi di masa depan,” kata AHY.

“Pertama, kita tidak boleh menunggu sampai krisis dimulai sebelum kita melakukan sesuatu. Di dunia yang penuh ketidakpastian, pencegahan dan kesiapsiagaan akan menjadi semakin penting. Saya setuju dengan pernyataan Angel Gurria Sekjen OECD (2006-2021) dan juga Perdana Menteri Norwegia Kjell Magne Bondevik (1997-2000, 2001-2005) tentang pencegahan dan kesiapsiagaan," sambungnya.

Dia menuturkan kita melihat bagaimana dunia telah membayar mahal untuk keterbatasan kita mencegah dan mempersiapkan apa yang mungkin terjadi ke depan. Dunia perlu dibekali dengan kapasitas yang memungkinkan kita untuk selalu siap.

Catatan kedua adalah bahwa kita tidak bisa mengandalkan teknologi semata untuk mencegah krisis. “Faktor manusia, seperti kepemimpinan dan karakter pemimpin, akan menjadi faktor penentu. Manusia lah yang harus membuat pilihan sulit untuk mengakhiri perang dan konflik, mengutamakan agenda iklim, beralih ke energi terbarukan, mereformasi bisnis dan pemerintahan, dan lain sebagainya,” jelas AHY.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!