Suara Nasdem Justru Akan Melejit karena Anies Effect
Kamis, 13 Oktober 2022 - 21:09 WIB
Kedua, mari kita amati perjalan partai yang pernah memiliki loncatan suara besar akibat didukung kelompok non partisan dan pemilih swing voters.
Susilo Bambang Yudhoyono Effect yang dirasakan Partai Demokrat. Dari hasil Pemilu 2009, Partai Demokrat menjadi Pemenang Pemilu Legislatif dengan memperoleh 150 kursi (26,4%) di DPR RI, setelah mendapat 21.703.137 total suara (20,4%).
Lalu Prabowo Effect. Pada Pileg 2009, Partai Gerindra hanya memiliki 26 kursi (4.64%). Namun melejit setelah mencalonkan Prabowo jadi presiden, Gerindra mampu menarik perhatian masyarakat “swing voters” dari kelompok nasionalis religius beralih ke Gerindra. Hingga puncaknya pada Pileg 2019 menjadi partai politik kedua terbesar menempati 78 kursi di DPR setelah meraih suara 13,57%. Keduanya memberi coattail effect kepada partainya masing-masing.
Bagaimana dengan Anies Effect. Padahal banyak orang memprediksi Anies Baswedan memiliki electoral lebih besar di atas Prabowo dan bahkan hampir melampaui SBY.
Cukup logis jika Anies dianggap memilki daya tarik lebih besar, pertama baik SBY atau Prabowo hanya mendapat dukungan dari pemilih basis oposisi, sementara Anies Baswedan dianggap sebagai simbol perubahan bagi masyarakat oposisi tapi juga mampu memikat Partai Nasdem yang notabene partai pro kekuasaan. Bahkan masih memilki kemungkinan mendapat dukungan dari partai lainnya yang sekarang berada di kekuasaan.
Melihat fakta tersebut, besarnya dukungan pada Anies dapat disimpulkan memilki radius lebih luas dibanding apa yang terjadi pada SBY dan Prabowo dulu.
Pertanyaanya, apakah besarnya dukungan pada Anies Baswedan akan berefek pula pada Partai Nasdem?. Saya jawab, PASTI. Karena sejak dahulu pun begitu. Partai pengusung selalu mendapat coattail effects dari tokoh yang diusungnya.
Susilo Bambang Yudhoyono Effect yang dirasakan Partai Demokrat. Dari hasil Pemilu 2009, Partai Demokrat menjadi Pemenang Pemilu Legislatif dengan memperoleh 150 kursi (26,4%) di DPR RI, setelah mendapat 21.703.137 total suara (20,4%).
Lalu Prabowo Effect. Pada Pileg 2009, Partai Gerindra hanya memiliki 26 kursi (4.64%). Namun melejit setelah mencalonkan Prabowo jadi presiden, Gerindra mampu menarik perhatian masyarakat “swing voters” dari kelompok nasionalis religius beralih ke Gerindra. Hingga puncaknya pada Pileg 2019 menjadi partai politik kedua terbesar menempati 78 kursi di DPR setelah meraih suara 13,57%. Keduanya memberi coattail effect kepada partainya masing-masing.
Bagaimana dengan Anies Effect. Padahal banyak orang memprediksi Anies Baswedan memiliki electoral lebih besar di atas Prabowo dan bahkan hampir melampaui SBY.
Cukup logis jika Anies dianggap memilki daya tarik lebih besar, pertama baik SBY atau Prabowo hanya mendapat dukungan dari pemilih basis oposisi, sementara Anies Baswedan dianggap sebagai simbol perubahan bagi masyarakat oposisi tapi juga mampu memikat Partai Nasdem yang notabene partai pro kekuasaan. Bahkan masih memilki kemungkinan mendapat dukungan dari partai lainnya yang sekarang berada di kekuasaan.
Melihat fakta tersebut, besarnya dukungan pada Anies dapat disimpulkan memilki radius lebih luas dibanding apa yang terjadi pada SBY dan Prabowo dulu.
Pertanyaanya, apakah besarnya dukungan pada Anies Baswedan akan berefek pula pada Partai Nasdem?. Saya jawab, PASTI. Karena sejak dahulu pun begitu. Partai pengusung selalu mendapat coattail effects dari tokoh yang diusungnya.
Lihat Juga :