Martha Christina Tiahahu, Panglima Perang Perempuan Termuda di Pasukan Pattimura
Sabtu, 24 September 2022 - 02:50 WIB
Tumbuh sebagai anak dari pemimpin tentara rakyat Maluku, membuat Martha dikenal pemberani dan konsekuen terhadap cita-cita perjuangan. Semangat pantang menyerah dan keberanian yang cukup tinggi membuat Martha dijadikan panglima perang perempuan termuda di pasukan Kapitan Pattimura saat perang melawan Belanda. Saat itu, usianya 17 tahun.
Martha tergabung dalam pasukan Kapitan Pattimura. Dia ikut berperan dalam sejumlah peristiwa penting misalnya saja dalam pertempuran merebut Benteng Duurstede dari Belanda pada 17 Mei 1817 dan ikut dalam pertempuran melawan Belanda di Pulau Saparua.
Dikutip dari laman Perpusnas, dengan rambut yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah), Martha tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran. Siang dan malam ia selalu hadir dan ikut dalam pembuatan kubu-kubu pertahanan. Bukan hanya mengangkat senjata, Martha juga memberi semangat kepada kaum perempuan di negeri-negeri agar ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran sehingga Belanda kewalahan.
Pada 11 Oktober 1817, pasukan Belanda di bawah pimpinan Richemont bergerak ke Ulath. Pasukan ini berhasil dipukul mundur oleh pasukan rakyat. Dengan kekuatan 100 orang prajurit, Meyer beserta Richemont kembali ke Ulath. Pertempuran berkobar kembali, korban pun berjatuhan di kedua belah pihak.
Dalam pertempuran ini, Richemont tertembak mati. Meyer dan pasukannya bertahan di tanjakan negeri Ouw. Dari segala penjuru pasukan rakyat mengepung, sorak-sorai pasukan bercakalele. Di tengah keganasan pertempuran itu muncul seorang gadis remaja bercakalele menantang peluru musuh. Dia adalah Martha Christina Tiahahu.
Baru di medan ini Belanda berhadapan dengan kaum perempuan fanatik yang turut bertempur. Pertempuran semakin sengit kala sebuah peluru pasukan rakyat mengenai leher Meyer. Vermeulen Kringer mengambil alih komando setelah Meyer diangkat ke atas Kapal Eversten.
Martha tergabung dalam pasukan Kapitan Pattimura. Dia ikut berperan dalam sejumlah peristiwa penting misalnya saja dalam pertempuran merebut Benteng Duurstede dari Belanda pada 17 Mei 1817 dan ikut dalam pertempuran melawan Belanda di Pulau Saparua.
Dikutip dari laman Perpusnas, dengan rambut yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah), Martha tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran. Siang dan malam ia selalu hadir dan ikut dalam pembuatan kubu-kubu pertahanan. Bukan hanya mengangkat senjata, Martha juga memberi semangat kepada kaum perempuan di negeri-negeri agar ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran sehingga Belanda kewalahan.
Pada 11 Oktober 1817, pasukan Belanda di bawah pimpinan Richemont bergerak ke Ulath. Pasukan ini berhasil dipukul mundur oleh pasukan rakyat. Dengan kekuatan 100 orang prajurit, Meyer beserta Richemont kembali ke Ulath. Pertempuran berkobar kembali, korban pun berjatuhan di kedua belah pihak.
Dalam pertempuran ini, Richemont tertembak mati. Meyer dan pasukannya bertahan di tanjakan negeri Ouw. Dari segala penjuru pasukan rakyat mengepung, sorak-sorai pasukan bercakalele. Di tengah keganasan pertempuran itu muncul seorang gadis remaja bercakalele menantang peluru musuh. Dia adalah Martha Christina Tiahahu.
Baru di medan ini Belanda berhadapan dengan kaum perempuan fanatik yang turut bertempur. Pertempuran semakin sengit kala sebuah peluru pasukan rakyat mengenai leher Meyer. Vermeulen Kringer mengambil alih komando setelah Meyer diangkat ke atas Kapal Eversten.
Lihat Juga :