Perkuat Keterlibatan Kampus, Gus Halim Ajak Mahasiswa Blusukan ke Wilayah Transmigrasi
Sabtu, 10 September 2022 - 18:04 WIB
Menteri Desa PDTT Abdul Halim Iskandar bersama Rektor Universitas NU Indonesia Juri Ardianto, dalam PKKMB UNUSIA 2022.
JAKARTA - Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar (Gus Halim) terus mendorong keterlibatan civitas akademika perguruan tinggi dalam percepatan pembanguna desa. Bahkan Gus Halim siap mengajak para mahasiswa blusukan ke wilayah transmigrasi untuk mengetahui berbagai capaian, kendala, dan tantangan dalam pembangunan desa .(Baca Juga : Dana Desa Efektif Bantu Penanggulangan Dampak Pandemi)
“Nanti akhir tahun 2022 ini, saya minta dibantu dari Pak Rektor, Warek, dan Ketua LPPM untuk menentukan 10-15 mahasiwa yang memenuhi syarat untuk saya ajak ke wilayah transmigrasi untuk lebih tahu kondisi transmigrasi hari ini. Utamanya nanti wilayah transmigrasi di daerah perbatasan. Biar tahu kondisi warga kita di perbatasan,” ujar Gus Halim saat memberikan kuliah umum tentang peran mahasiswa dalam membangun desa kepada 525 mahasiswa baru di Kampus UNUSIA, Bogor, Jawa Barat pada Jumat (9/9/2022).
Gus Halim mengatakan masih banyak pekerjaan rumah dalam pembangunan desa, daerah tertinggal, maupun daerah transmigrasi di Indonesia. Menurutnya berbagai agenda pembangunan desa, daerah tertinggal dan transmigrasi tersebut membutuhkan peran aktif civitas akademika perguruan tinggi, termasuk dari kalangan mahasiswa. “Kita yang hidup di Jawa ini harus bersyukur dengan berbagai akses dan kesempatan yang kita miliki termasuk kuliah di UNUSIA ini. Akses dan kesempatan ini rata-rata masih belum bisa dinikmati oleh saudara-saudara kita yang tinggal di desa-desa di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T),” ujarnya.
Dia mengatakan banyak progres pembangunan desa saat ini terutama dengan kian jelasnya target pembangunan desa yang terangkum dalam SDGs Desa. Dengan adanya SDGs Desa pembangunan di wilayah perdesaan tidak melulu persoalan infrastruktur semata, tetapi juga ada fokus pada pengembangan kualitas sumber daya manusia. “Saat saya menjabat Ketua DPRD Jombang dan Jawa Timur, kalo ngomong pembangunan desa yang dibahas infrastruktur saja. Tidak dibahas bagaimana SDM-nya, bagaimana kesehatannya bagaimana air bersihnya, bagaimana perhatian terhadap lingkungan ini hampir tidak pernah dibahas, yang dibahas bagaimana jalan, bagaimana kemudian irigasi. Itu tidak salah, itu sesuatu yang benar, tetapi harus ada kerangka makro yang jelas mau dibawa ke mana sih desa-desa di Indonesia ini,” urainya. (Baca Juga :Saatnya Bergandengan Tangan untuk Kembangkan Desa Berorientasi Ekspor)
“Nanti akhir tahun 2022 ini, saya minta dibantu dari Pak Rektor, Warek, dan Ketua LPPM untuk menentukan 10-15 mahasiwa yang memenuhi syarat untuk saya ajak ke wilayah transmigrasi untuk lebih tahu kondisi transmigrasi hari ini. Utamanya nanti wilayah transmigrasi di daerah perbatasan. Biar tahu kondisi warga kita di perbatasan,” ujar Gus Halim saat memberikan kuliah umum tentang peran mahasiswa dalam membangun desa kepada 525 mahasiswa baru di Kampus UNUSIA, Bogor, Jawa Barat pada Jumat (9/9/2022).
Gus Halim mengatakan masih banyak pekerjaan rumah dalam pembangunan desa, daerah tertinggal, maupun daerah transmigrasi di Indonesia. Menurutnya berbagai agenda pembangunan desa, daerah tertinggal dan transmigrasi tersebut membutuhkan peran aktif civitas akademika perguruan tinggi, termasuk dari kalangan mahasiswa. “Kita yang hidup di Jawa ini harus bersyukur dengan berbagai akses dan kesempatan yang kita miliki termasuk kuliah di UNUSIA ini. Akses dan kesempatan ini rata-rata masih belum bisa dinikmati oleh saudara-saudara kita yang tinggal di desa-desa di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T),” ujarnya.
Dia mengatakan banyak progres pembangunan desa saat ini terutama dengan kian jelasnya target pembangunan desa yang terangkum dalam SDGs Desa. Dengan adanya SDGs Desa pembangunan di wilayah perdesaan tidak melulu persoalan infrastruktur semata, tetapi juga ada fokus pada pengembangan kualitas sumber daya manusia. “Saat saya menjabat Ketua DPRD Jombang dan Jawa Timur, kalo ngomong pembangunan desa yang dibahas infrastruktur saja. Tidak dibahas bagaimana SDM-nya, bagaimana kesehatannya bagaimana air bersihnya, bagaimana perhatian terhadap lingkungan ini hampir tidak pernah dibahas, yang dibahas bagaimana jalan, bagaimana kemudian irigasi. Itu tidak salah, itu sesuatu yang benar, tetapi harus ada kerangka makro yang jelas mau dibawa ke mana sih desa-desa di Indonesia ini,” urainya. (Baca Juga :Saatnya Bergandengan Tangan untuk Kembangkan Desa Berorientasi Ekspor)
Lihat Juga :