Refly: Susah Tegakkan Good Governance Kalau Pelanggarnya di Pusat Kekuasaan
Kamis, 02 Juli 2020 - 07:32 WIB
Padahal, pada saat yang bersamaan orang-orang itu merupakan penentu siapa yang akan menjadi komisaris, bagaimana bonusnya, dan berapa gajinya.
”Dari kecil itu saja sudah terlihat ada conflict of interest di sana. Tapi sayang seperti ini kan tidak diperhatikan Erick Tohir,” tutur dia.
(Baca: Rangkap Jabatan di BUMN, SAS Institute: Itu Pelanggaran Etika Publik)
Refly lalu menceritakan pengalamannya menolak seorang yang dianggapnya tidak cocok untuk ditempatkan sebagai komisaris anak perusahaan, ketika dia menjadi komisaris utama BUMN. Menurut dia, dari segi usia nama yang disodorkan masih terlalu muda, sekitar 20-an tahun. Begitu juga latar belakang pendidikannya tidak relevan.
”Karena kebetulan membantu kementerian. Jadi, dia bekerja di kementerian tapi gajinya dari BUMN, gimana nalarnya ya? Saya kira berdosa kalau membiarkan praktik-praktik seperti itu,” kata Refly.
”Dari kecil itu saja sudah terlihat ada conflict of interest di sana. Tapi sayang seperti ini kan tidak diperhatikan Erick Tohir,” tutur dia.
(Baca: Rangkap Jabatan di BUMN, SAS Institute: Itu Pelanggaran Etika Publik)
Refly lalu menceritakan pengalamannya menolak seorang yang dianggapnya tidak cocok untuk ditempatkan sebagai komisaris anak perusahaan, ketika dia menjadi komisaris utama BUMN. Menurut dia, dari segi usia nama yang disodorkan masih terlalu muda, sekitar 20-an tahun. Begitu juga latar belakang pendidikannya tidak relevan.
”Karena kebetulan membantu kementerian. Jadi, dia bekerja di kementerian tapi gajinya dari BUMN, gimana nalarnya ya? Saya kira berdosa kalau membiarkan praktik-praktik seperti itu,” kata Refly.
Lihat Juga :