Habib Ja'far: Media Digital Belum Merdeka dari Radikalisme dan Intoleransi
Minggu, 21 Agustus 2022 - 21:42 WIB
“Konten yang tidak moderat itu menguasai lebih dari 60% perbincangan di media digital. Nah oleh karena itu ini menjadi kerja bersama kita semua, bukan hanya antar bidang tapi juga antar gender,” tutur pria pemilik kanal YouTube “Jeda Nulis” ini.
Habib Ja’far memaknai kemerdekaan 77 tahun Indonesia sebagai momen untuk pulih lebih cepat dari segala dorongan nafsu dan egoisme. Juga bangkit dari segala isu sektarian yang bersifat politik identitas memecah belah kebhinekaan.
“Tagline ‘Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat’, itu sesuatu yang penting untuk mengisi kemerdekaan, agar kita bisa pulih lebih cepat dari segala dorongan-dorongan egoisme yang mengarahkan kepada intoleransi dan radikalisme serta bangkit lebih kuat untuk bangkit dari segala isu-isu yang sifatnya sektarian, yang sifatnya politik identitas,” jelas Habib Ja’far.
Ia menilai tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh pihak saat ini adalah bagaimana menerjemahkan nilai Pancasila pada generasi baru. Narasi-narasi baru dibutuhkan agar generasi tersebut mampu menghayati nilai Pancasila sesuai perspektif dan cara mereka.
“Jadi tidak lagi kemudian soal menghafal Pancasila, tidak lagi soal itu.Tapi soal bagaimana mereka menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan ragam fenomena yang baru,” ungkapnya.
Habib Ja’far memaknai kemerdekaan 77 tahun Indonesia sebagai momen untuk pulih lebih cepat dari segala dorongan nafsu dan egoisme. Juga bangkit dari segala isu sektarian yang bersifat politik identitas memecah belah kebhinekaan.
“Tagline ‘Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat’, itu sesuatu yang penting untuk mengisi kemerdekaan, agar kita bisa pulih lebih cepat dari segala dorongan-dorongan egoisme yang mengarahkan kepada intoleransi dan radikalisme serta bangkit lebih kuat untuk bangkit dari segala isu-isu yang sifatnya sektarian, yang sifatnya politik identitas,” jelas Habib Ja’far.
Ia menilai tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh pihak saat ini adalah bagaimana menerjemahkan nilai Pancasila pada generasi baru. Narasi-narasi baru dibutuhkan agar generasi tersebut mampu menghayati nilai Pancasila sesuai perspektif dan cara mereka.
“Jadi tidak lagi kemudian soal menghafal Pancasila, tidak lagi soal itu.Tapi soal bagaimana mereka menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan ragam fenomena yang baru,” ungkapnya.
Lihat Juga :