Kerentanan Tenaga Kerja Menghadapi Otomasi
Kamis, 27 Januari 2022 - 15:26 WIB
Rentannya Pasar Kerja Indonesia
Populasi dan tenaga kerja merupakan faktor penting kesejahteraan suatu negara. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan China memiliki jumlah populasi besar yang produktif sehingga mampu meningkatkan output perekonomiannya. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah pengembangan teknologi. Teknologi membantu seseorang dalam memproduksi nilai tambah sembari meningkatkan efektivitas serta produktivitas. Sebagai analogi, sebuah pekerjaan dengan output tertentu awalnya dikerjakan oleh dua orang, dengan bantuan teknologi total output yang sama bisa dikerjakan cukup oleh satu orang.
Teknologi otomasi merupakan dua sisi mata uang, berkah bagi yang bisa memanfaatkannya dan bencana bagi yang terlambat beradaptasi.
Di Indonesia potensi bencana tersebut terlihat dengan rentannya struktur pasar kerja Indonesia. Menurut data Badan Pisat Statistik (BPS) 2019, hampir 47,9% tenaga kerja di Indonesia merupakan lulusan/tidak tamat SD. Dan, hampir 60% angkatan kerja di Indonesia bekerja di sektor informal dengan tingkat risiko kerja tinggi dan tingkat upah yang rendah.
International Labour Office (ILO) menyebut bahwa 56% pekerjaan di Indonesia berada dalam risiko tinggi digantikan oleh teknologi dan 35% memiliki risiko menengah. Laporan McKensey & Company (2019) juga menyebut lebih dari 23 juta pekerjaan di Indonesia sekarang bisa digantikan oleh robot dengan tingkat produktivitas yang sama. Hal tersebut senada dengan riset Acemoglou & Restrepo (2020) tentang dampak penggunaan robot pada pasar tenaga kerja AS yang mengindikasikan terjadinya perlambatan permintaan pasar kerja di AS sejak awal 2000-an.
Penggunaan satu robot per seribu pekerja di AS juga mengurangi rasio mendapatkan pekerjaan 0,2% dan upah 0,42%.
Populasi dan tenaga kerja merupakan faktor penting kesejahteraan suatu negara. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan China memiliki jumlah populasi besar yang produktif sehingga mampu meningkatkan output perekonomiannya. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah pengembangan teknologi. Teknologi membantu seseorang dalam memproduksi nilai tambah sembari meningkatkan efektivitas serta produktivitas. Sebagai analogi, sebuah pekerjaan dengan output tertentu awalnya dikerjakan oleh dua orang, dengan bantuan teknologi total output yang sama bisa dikerjakan cukup oleh satu orang.
Teknologi otomasi merupakan dua sisi mata uang, berkah bagi yang bisa memanfaatkannya dan bencana bagi yang terlambat beradaptasi.
Di Indonesia potensi bencana tersebut terlihat dengan rentannya struktur pasar kerja Indonesia. Menurut data Badan Pisat Statistik (BPS) 2019, hampir 47,9% tenaga kerja di Indonesia merupakan lulusan/tidak tamat SD. Dan, hampir 60% angkatan kerja di Indonesia bekerja di sektor informal dengan tingkat risiko kerja tinggi dan tingkat upah yang rendah.
International Labour Office (ILO) menyebut bahwa 56% pekerjaan di Indonesia berada dalam risiko tinggi digantikan oleh teknologi dan 35% memiliki risiko menengah. Laporan McKensey & Company (2019) juga menyebut lebih dari 23 juta pekerjaan di Indonesia sekarang bisa digantikan oleh robot dengan tingkat produktivitas yang sama. Hal tersebut senada dengan riset Acemoglou & Restrepo (2020) tentang dampak penggunaan robot pada pasar tenaga kerja AS yang mengindikasikan terjadinya perlambatan permintaan pasar kerja di AS sejak awal 2000-an.
Penggunaan satu robot per seribu pekerja di AS juga mengurangi rasio mendapatkan pekerjaan 0,2% dan upah 0,42%.
Lihat Juga :