Menyigi Peran Pendidikan Islam Menghadapi Krisis Ekologi
Rabu, 12 Januari 2022 - 15:10 WIB
Capaian UIN Jakarta dan berbagai lembaga pendidikan Islam lainnya eloknya menjadi pendorong entitas dan satuan kerja dan satuan pendidikan Islam lainnya untuk membangun langkah bersama merespons krisis iklim dan lingkungan. Langkah bersama jelas diperlukan karena keberlanjutan ekologis adalah bagian dari ketahanan sistem biologis yang beragam, produktif, dan berkenaan dengan variasi nilai, di antaranya adalah ekonomi (Jatna Supriatna, 2021). Artinya, diperlukan sikap dan penanganan konstruktif yang melibatkan konstruksi transdisiplin.
Titik Pijak
Kalangan Pendidikan Islam dapat memulai setidaknya dengan beberapa hal mendasar. Pertama, mendorong kesadaran umat Islam dengan promosi pentingnya menjaga lingkungan dan krisis iklim. Konsepsi Islam rahmatan lil alamin (Islam sebagai rahmat bagi semesta) menjadi titik pijak fundamental pentingnya menghadirkan nilai Islam yang bukan hanya moderat pada sesama dan toleran pada keberagaman, namun juga memiliki kepedulian mendalam pada kerusakan alam dan lingkungan. Sudah saatnya pula, kalangan pendidikan Islam perlu “turun gunung” memberikan perhatian lebih pada krisis lingkungan dan iklim pada batas iman, etis, dan spektrum kependidikan yang memungkinkan.
Entitas muslim Indonesia bukan hanya membuka kemungkinan menjadi pemimpin atas inisiatif global dan muslim dunia dalam menghadapi krisis lingkungan dan iklim, namun juga menjawab kabar mencemaskan dan kesuraman pandangan para ahli terkait.
Dalam Sixth Extinction (2014), Elizabeth Kolberg menggambarkan betapa dunia akan menghadapi kepunahan keenam berdasarkan indikasi tingginya pengasaman alami di lepas pantai Italia, nasib mengenaskan karang di Great Barrier Reef, kondisi hutan tropis di Peru dan Indonesia, fragmentasi habitat di lembah Amazon dan sekitarnya, dan dari konsekuensi perpindahan spesies global secara massal dari satu tempat ke tempat lain.
Kegelisahan Kolberg bernada mirip dengan kritik budaya dan lingkungan Timothy Morton dengan pandangannya mengenai hyperobject atau kecanggihan sekaligus kerakusan perkembangan biologi sintetis pada nilai dan eksistensi kemanusiaan dalam investigasi intelektual Craig Venter, serta beragam pandangan serupa lainnya. Di titik ini, kepunahan keenam ala Kolberg dan pandangan senada patut dijadikan renungan dan peringatan bersama.
Titik Pijak
Kalangan Pendidikan Islam dapat memulai setidaknya dengan beberapa hal mendasar. Pertama, mendorong kesadaran umat Islam dengan promosi pentingnya menjaga lingkungan dan krisis iklim. Konsepsi Islam rahmatan lil alamin (Islam sebagai rahmat bagi semesta) menjadi titik pijak fundamental pentingnya menghadirkan nilai Islam yang bukan hanya moderat pada sesama dan toleran pada keberagaman, namun juga memiliki kepedulian mendalam pada kerusakan alam dan lingkungan. Sudah saatnya pula, kalangan pendidikan Islam perlu “turun gunung” memberikan perhatian lebih pada krisis lingkungan dan iklim pada batas iman, etis, dan spektrum kependidikan yang memungkinkan.
Entitas muslim Indonesia bukan hanya membuka kemungkinan menjadi pemimpin atas inisiatif global dan muslim dunia dalam menghadapi krisis lingkungan dan iklim, namun juga menjawab kabar mencemaskan dan kesuraman pandangan para ahli terkait.
Dalam Sixth Extinction (2014), Elizabeth Kolberg menggambarkan betapa dunia akan menghadapi kepunahan keenam berdasarkan indikasi tingginya pengasaman alami di lepas pantai Italia, nasib mengenaskan karang di Great Barrier Reef, kondisi hutan tropis di Peru dan Indonesia, fragmentasi habitat di lembah Amazon dan sekitarnya, dan dari konsekuensi perpindahan spesies global secara massal dari satu tempat ke tempat lain.
Kegelisahan Kolberg bernada mirip dengan kritik budaya dan lingkungan Timothy Morton dengan pandangannya mengenai hyperobject atau kecanggihan sekaligus kerakusan perkembangan biologi sintetis pada nilai dan eksistensi kemanusiaan dalam investigasi intelektual Craig Venter, serta beragam pandangan serupa lainnya. Di titik ini, kepunahan keenam ala Kolberg dan pandangan senada patut dijadikan renungan dan peringatan bersama.
Lihat Juga :