KH As’ad Said Ali, Kuda Hitam atau Pemecah Suara di Muktamar ke-34 NU?

Rabu, 22 Desember 2021 - 18:25 WIB
Sebagai tokoh intelektual, Kiai As’ad telah menghasilkan sejumlah buku di antaranya Pergolakan di Jantung Tradisi (2009), Ideologi Pasca Reformasi (2010), dan Negara Pancasla (2011).Ketika memutuskan bersedia maju sebagai ketua umum PBNU dalam Muktamar ke-34, Kiai As’ad menyebut keberaniannya tersebut karena dukungan sejumlah kiai dan PWNU, salah satunya PWNU Aceh.

Baca juga: Profil Gus Yahya, Putra Pendiri PKB yang Tegas Melamar Jadi Ketum PBNU

Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman KH Syukron Ma'mun juga lugas mendorong Kiai As'ad menjadi ketua umum PBNU. Pengalaman di NU maupun di luar NU diyakininya akan mampu membawa NU mengarungi tantangan zaman.

Bagaimana peluang menangnya? Dosen Ilmu Politik & International Studies Universitas Paramadina, Jakarta A Khoirul Umam berpendapat bahwa Kiai As'ad memang masih harus bekerja keras di sisa waktu makin sempit. Meskipun telah didukung oleh sejumlah penguruh NU daerah, tampilnya Kiai As’ad berpotensi menghasilkan dua kemungkinan. Pertama, Kiai As’ad bisa menjadi kuda hitam bila terjadi situasi luar biasa dan muncul upaya pelimpahan kekuatan.

”Kedua, jika memang targetnya tidak menang, maka majunya Kiai As’ad berpotensi memecah dukungan antara basis pemilih loyal KH Said Aqil Siradj dan KH Yahya Cholil Staquf,” ujar mantan ketua tanfidz PCI-NU Queensland Australia ini, Rabu (22/12/2021).
(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!