Detik-detik Sintong Panjaitan Nyaris Dibunuh Suku Pedalaman Papua: Tombak Sudah di Depan Mata!
Selasa, 21 Desember 2021 - 08:00 WIB
Sintong refleks memindahkan posisi senjata dari disandang ke posisi depan. Meskipun sadar itu operasi kemanusiaan (personel dilarang menggunakan senjata jika tidak dalam keadaan sangat terdesak), Sintong merasa perlu bersiaga.
Sayangnya, magasin berisi 30 peluru Soviet M43 7,62x39 mm jatuh berhamburan di antara kaki-kaki penduduk. Untunglah seorang anak muda mengambil magasin itu dan melemparkan padanya. Sintong segera memasang pada senjata serbu AK-47 yang dibawanya. Senjata dikokang lantas dikunci.
Sebelum Operasi 009 di Lembah X itu diberangkatkan, seorang pastor di Papua memberitahukan bagaimana cara menghadapi masyarakat pedalaman. "Cara menyapa mereka adalah dengan membuka tangan sambil tersenyum," tulis buku Kopassus untuk Indonesia.
Di tengah situasi genting itu, Sintong teringat pesan tersebut. Segera lulusan Akademi Militer 1963 ini membuka kedua belah tangannya ke atas dan tersenyum. Serdadu Baret Merah kelahiran Tarutung ini juga menampakkan wajah cerah untuk memberikan kesan dirinya ingin bersahabat dan tidak berniat jahat. Dia juga membuka seragam Loreng Darah Mengalir untuk menarik perhatian penduduk.
Tiba-tiba keluar seorang tua dari dalam rumah sambil membawa sesuatu yang diangkat dengan menggunakan tangan di atas kepalanya. "Nyap-nyap e, nyap-nyap e," kata dia. Walau Sintong tak tahu bahasa penduduk Lembah X, dia menduga kata itu bermaksud makan.
Sintong mengambil pemberian itu yang ternyata daging babi mentah. Dia melahapnya. Perlahan penduduk Lembah X mulai tampak lega. Mereka bersorak-sorak sebagai luapan kegembiraan. Belakangan diketahui, orang yang menerima pemberian itu dan memakannya, dianggap sebagai sahabat.
Sayangnya, magasin berisi 30 peluru Soviet M43 7,62x39 mm jatuh berhamburan di antara kaki-kaki penduduk. Untunglah seorang anak muda mengambil magasin itu dan melemparkan padanya. Sintong segera memasang pada senjata serbu AK-47 yang dibawanya. Senjata dikokang lantas dikunci.
Sebelum Operasi 009 di Lembah X itu diberangkatkan, seorang pastor di Papua memberitahukan bagaimana cara menghadapi masyarakat pedalaman. "Cara menyapa mereka adalah dengan membuka tangan sambil tersenyum," tulis buku Kopassus untuk Indonesia.
Di tengah situasi genting itu, Sintong teringat pesan tersebut. Segera lulusan Akademi Militer 1963 ini membuka kedua belah tangannya ke atas dan tersenyum. Serdadu Baret Merah kelahiran Tarutung ini juga menampakkan wajah cerah untuk memberikan kesan dirinya ingin bersahabat dan tidak berniat jahat. Dia juga membuka seragam Loreng Darah Mengalir untuk menarik perhatian penduduk.
Tiba-tiba keluar seorang tua dari dalam rumah sambil membawa sesuatu yang diangkat dengan menggunakan tangan di atas kepalanya. "Nyap-nyap e, nyap-nyap e," kata dia. Walau Sintong tak tahu bahasa penduduk Lembah X, dia menduga kata itu bermaksud makan.
Sintong mengambil pemberian itu yang ternyata daging babi mentah. Dia melahapnya. Perlahan penduduk Lembah X mulai tampak lega. Mereka bersorak-sorak sebagai luapan kegembiraan. Belakangan diketahui, orang yang menerima pemberian itu dan memakannya, dianggap sebagai sahabat.
(maf)
Lihat Juga :