Ambang Batas Parlemen 7%, Puluhan Juta Suara Pemilih Terancam Hangus

Senin, 08 Juni 2020 - 08:08 WIB
Sekjen Perindo Ahmad Rofiq merasa kecolongan dengan RUU Pemilu. “Ini nyata-nyata kita semua kecolongan. Nggak jelas kapan kajian akademis, kapan diskusi pendahuluan, eh tiba-tiba sudah menjadi prolegnas di DPR RI. Prioritas lagi! Kerja kilat,” kata Rofiq. (Baca: PAN Nilai Usulan Ambang Batas Parlemen 7% Tidak Realistis)

Sekjen Berkarya Priyo Budi Santoso menekankan pada potensi risiko jumlah suara pemilih yang hilang. “Menjadi kegelisahan bersama tentang besarnya kemungkinan suara pemilih yang hangus. Kami merasa wajib hadir menjadi penyeimbang informasi kepada masyarakat bahwa risiko hangusnya puluhan juta suara itu nyata adanya,” ungkapnya.

Sekjen Bulan Bintang Afriansyah Ferry Noor mengungkapkan, fakta bahwa kondisi yang relatif sama dihadapi pada 2009, 2014, dan 2024. “Ya berproses di MK (lagi). Tapi, apa kita akan terus menerus buang-buang energi seperti ini, setiap lima tahun hanya untuk melawan arogansi dan hasrat berkuasa yang berlebihan ini,” ungkapnya.

Sekjen Garuda Abdullah Mansuri mengatakan, baik usulan parliamentary threshold dan atau presidential threshold yang diajukan merupakan ancaman nyata terhadap demokrasi. “Sudah banyak suara negatif masuk dari daerah-daerah. Masyarakat luas harus segera disadarkan,” katanya.

Sekjen PKPI Verry Surya Hendrawan menambahkan, komunikasi intens antarsekjen terus dijalin ke depan. Termasuk dengan tiga parpol di parlemen yang menentang RUU, yakni PAN, PPP, dan Demokrat. “Dan tentu saja juga (komunikasi) dengan para sahabat DPR RI yang mengusulkannya. Segera kami jadwalkan bertemu. Insya Allah, kami semua hanya inginkan yang terbaik untuk bangsa dan negara tercinta ini,” kata Verry.

PAN-PKS Usul PT 5%
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!