Sosok Hans Hamzah, Intel Misterius Keturunan Tionghoa: Kuasai 6 Bahasa dan Ahli Bongkar Kunci
Minggu, 05 Desember 2021 - 07:37 WIB
Baca juga: Operasi Kuta, Taktik Pasukan Intelijen Benny Moerdani Bongkar Dokumen Rahasia Portugal
Di hotel tempat Tinguely menginap, Hamzah yang berpura-pura sebagai guru dari Singapura berkenalan di lobi. Dengan cepat mereka akrab. Kepada mahasiswa yang pernah belajar di Jerman Barat itu, Hamzah menunjukkan ada penginapan lebih murah. Tinguely setuju untuk melihat besoknya.
Seperti dijanjikan keesokan harinya mereka bertemu. Hamzah membawa Tinguely ke guest house di Jalan Raden Saleh, Cikini yang berharga lebih murah. Tinguely setuju untuk tinggal di situ.
Begitu akrabnya, Hamzah juga mengajak Tinguely jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Saat itu, Tinguely sadar dirinya diintai oleh para spionase. Namun dia tidak pernah curiga sedikit pun kepada Hamzah.
“Indonesia banyak mata-mata,” katanya kepada Hamzah. Tinguely tahu diintai karena banyak tukang foto yang memotretnya dari kejauhan. Para tukang foto itu tak lain agen-agen intelijen di bawah komando Benny Moerdani langsung.
Kendati demikian, Operasi Puyuh ini ternyata tak ‘semenakutkan’ yang diperkirakan. Tinguely yang terlalu percaya kepada Hamzah dan banyak mengobral cerita tentang sepak terjangnya baik di Jepang maupun Jerman Barat, dianggap bukan sosok yang mengancam. “Dia tak lebih dari seorang tukang sorak ideologis daripada seorang operator teroris sejati,” kata Ken.
Di hotel tempat Tinguely menginap, Hamzah yang berpura-pura sebagai guru dari Singapura berkenalan di lobi. Dengan cepat mereka akrab. Kepada mahasiswa yang pernah belajar di Jerman Barat itu, Hamzah menunjukkan ada penginapan lebih murah. Tinguely setuju untuk melihat besoknya.
Seperti dijanjikan keesokan harinya mereka bertemu. Hamzah membawa Tinguely ke guest house di Jalan Raden Saleh, Cikini yang berharga lebih murah. Tinguely setuju untuk tinggal di situ.
Begitu akrabnya, Hamzah juga mengajak Tinguely jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Saat itu, Tinguely sadar dirinya diintai oleh para spionase. Namun dia tidak pernah curiga sedikit pun kepada Hamzah.
“Indonesia banyak mata-mata,” katanya kepada Hamzah. Tinguely tahu diintai karena banyak tukang foto yang memotretnya dari kejauhan. Para tukang foto itu tak lain agen-agen intelijen di bawah komando Benny Moerdani langsung.
Kendati demikian, Operasi Puyuh ini ternyata tak ‘semenakutkan’ yang diperkirakan. Tinguely yang terlalu percaya kepada Hamzah dan banyak mengobral cerita tentang sepak terjangnya baik di Jepang maupun Jerman Barat, dianggap bukan sosok yang mengancam. “Dia tak lebih dari seorang tukang sorak ideologis daripada seorang operator teroris sejati,” kata Ken.
(muh)
Lihat Juga :