Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma, Navigator Andalan Belanda Pendiri Angkatan Udara RI

Rabu, 24 November 2021 - 12:37 WIB
Jalannya untuk menjadi penerbang masih panjang. Ia masih harus menjalani pendidikan perwira di KMA (Koninklijke Militaire Academie), yang terletak di Breda, Belanda. Pada September 1931, ia mendaftar pendidikan perwira dan menjadi kadet (taruna) KMA. Di sana, Soerjadarma mempelajari dasar-dasar kemiliteran dan kepemimpinan hingga lulus pada 1934.

Setelahnya, ia ditempatkan di Satuan Angkatan Darat Belanda di Nijmigen, Negeri Belanda, sebelum dipindahkan ke Batalyon I Infanteri di Magelang sampai November 1936, satu bulan setelahnya. Karena telah menjadi perwira dengan pangkat Letnan Dua, Soerjadarma dapat mendaftarkan diri sebagai Calon Kadet Penerbang.

Sayangnya, setelah dua kali mengikuti tes, ia selalu gagal lantaran terserang malaria. Setelah tes ketiga, barulah ia berangkat ke Kalijati untuk mengikuti Sekolah Penerbang. Karena diskriminasi yang dilakukan Belanda, setelah lulus pada Juli 1938, Soerjadarma tidak kunjung mendapat brevet penerbang yang harusnya menjadi haknya usai menyelesaikan pendidikan. Meskipun teman sekamarnya telah tiga kali mengajukan nama Soerjadarma untuk melakukan checkride, tetap ditolak. Selama itu, ia hanya diperbolehkan untuk mengikuti ujian sebagai navigator.

Soerjadarma kemudian mengikuti pendidikan di Sekolah Pengintai pada Juli 1938. Setahun kemudian, ia pun ditugaskan sebagai navigator Kesatuan Pembom (Vliegtuiggroep) Glenn Martin di Andir, Bandung. Pada Januari 1941, ia dipercaya menjadi instruktur Sekolah Penerbang dan Pengintai di Kalijati. Bukan sebagai pilot, Soerjadarma bertugas sebagai Waarnemer, yang memiliki fungsi sebagai navigator, observer, perwira pengeboman, dan air liason.

Baca juga: Meriahkan Superbike Mandalika, 7 Pesawat TNI AU Siap Bermanuver di Langit Lombok

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!