Barisan Celeng Berjuang Pendukung Ganjar Dinilai Simbol Perlawanan di PDIP
Rabu, 13 Oktober 2021 - 17:00 WIB
Menurut dia, Puan Maharani dan Ganjar Pranowo sama-sama memiliki basis pemilih loyal di internal PDIP. “Kedua kubu itu semakin vulgar konfrontasinya, mengingat kubu Puan ingin semua elemen kekuatan politik tertib di bawah kontrol demokrasi terpimpin yang dikendalikan ibunya, Megawati, dengan Puan sebagai kepanjangan tangan dalam pengambilan keputusan strategis,” ujarnya.
Di sisi lain, kata dia, kubu Ganjar semakin tidak terkontrol karena melihat menyempitnya peluang maju Pilpres 2024 setelah dihentakkan oleh Puan, Bambang Pacul Wuryanto, Hasto Kristiyanto, dan elite PDIP lainnya. “Uniknya, melihat pergerakan pendukungnya itu, Ganjar seolah bersikap diam atau mendiamkan statement dan manuver-manuver pendukungnya,” ujarnya.
Dia menilai Ganjar seharusnya punya kendali langsung untuk mengerem mesin politik pendukungnya. “Jadi, sikap diam Ganjar bisa jadi ditujukan sebagai langkah mitigasi untuk tetap membuka peluang nyapres yang kian menyempit, akibat tidak matched-nya komunikasi politik Ganjar dengan elite PDIP,” katanya.
Kendati demikian, dia berpendapat bisa dipahami kalau aspirasi mengusung Puan di Pilpres 2024 terus menguat di internal PDIP. Sebab, kata dia, praktis 20 tahun pasca tidak terpilihnya Megawati di Pilpres 2004 hingga 2024 mendatang, tidak ada lagi trah keturunan Soekarno yang tampil ke panggung kepemimpinan nasional.
“Jika benturan kekuatan Ganjar dan Puan tidak terelakkan, lalu dimenangkan oleh Ganjar dengan massifnya narasi dan mesin politik relawan yang terus bekerja sampai sekarang, maka hal itu berpotensi mengancam status quo dalam tradisi kepemimpinan dan struktur kekuasaan di internal PDIP,” pungkasnya.
Di sisi lain, kata dia, kubu Ganjar semakin tidak terkontrol karena melihat menyempitnya peluang maju Pilpres 2024 setelah dihentakkan oleh Puan, Bambang Pacul Wuryanto, Hasto Kristiyanto, dan elite PDIP lainnya. “Uniknya, melihat pergerakan pendukungnya itu, Ganjar seolah bersikap diam atau mendiamkan statement dan manuver-manuver pendukungnya,” ujarnya.
Dia menilai Ganjar seharusnya punya kendali langsung untuk mengerem mesin politik pendukungnya. “Jadi, sikap diam Ganjar bisa jadi ditujukan sebagai langkah mitigasi untuk tetap membuka peluang nyapres yang kian menyempit, akibat tidak matched-nya komunikasi politik Ganjar dengan elite PDIP,” katanya.
Kendati demikian, dia berpendapat bisa dipahami kalau aspirasi mengusung Puan di Pilpres 2024 terus menguat di internal PDIP. Sebab, kata dia, praktis 20 tahun pasca tidak terpilihnya Megawati di Pilpres 2004 hingga 2024 mendatang, tidak ada lagi trah keturunan Soekarno yang tampil ke panggung kepemimpinan nasional.
“Jika benturan kekuatan Ganjar dan Puan tidak terelakkan, lalu dimenangkan oleh Ganjar dengan massifnya narasi dan mesin politik relawan yang terus bekerja sampai sekarang, maka hal itu berpotensi mengancam status quo dalam tradisi kepemimpinan dan struktur kekuasaan di internal PDIP,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :