Kostrad Sangkal Pernyataan Gatot Nurmantyo Soal Hilangnya Patung Soeharto di Makostrad
Senin, 27 September 2021 - 16:29 WIB
Kostrad menyangkal pernyataan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo soal hilangnya sejumlah patung di Museum Darma Bhakti. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad) angkat bicara terkait pernyataan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo yang menyebut pihaknya menghilangkan patung sejumlah tokoh negara di Museum Darma Bhakti Kostrad. Museum itu dulunya adalah tempat kerja Mayjen TNI Soeharto selaku Pangkostrad.
Di dalam museum itu tadinya terdapat diorama yang menggambarkan suasana di pagi hari, 1 Oktober 1965 beberapa jam selepas enam Jenderal dan seorang perwira muda TNI AD diculik PKI. Adegan yang digambarkan adalah saat Mayjen TNI Soeharto menerima laporan dari Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.
Sementara Menteri/Panglima TNI Angkatan Darat Jenderal AH Nasution yang selamat dari upaya penculikan PKI beberapa jam sebelumnya duduk tidak jauh dari Soeharto dan Sarwo Edhie. "Tidak benar Kostrad mempunyai ide untuk membongkar patung Pak Harto, Pak Sarwo Edhie, dan Pak Nasution yang ada dalam ruang kerja Pak Harto di Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad," tutur Kapen Kostrad Kolonel Inf Haryantana, Senin (27/9/2021).Baca juga: Ketum PBNU: Bukan PKI Bahaya Laten tapi Terorisme dan Radikalisme
Lebih jauh dijelaskan Haryantana, pada 30 Agustus 2021, terdapat permintaan dari Letjen TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution selaku Pangkostrad ke-34 yang meminta bangunan tersebut untuk dibongkar. Permintaan Azmyn disampaikan langsung ke Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman. "Pembongkaran patung-patung tersebut atas keinginan Letjen TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution, karena pada saat menjabat Pangkostrad periode 9 Agustus 2011 sampai dengan 13 Maret 2012 dia yang membuat ide untuk pembuatan patung-patung tersebut" ujarnya.Baca juga: Kamp Plantungan, Penjara Perempuan Simpatisan Gerwani
Di dalam museum itu tadinya terdapat diorama yang menggambarkan suasana di pagi hari, 1 Oktober 1965 beberapa jam selepas enam Jenderal dan seorang perwira muda TNI AD diculik PKI. Adegan yang digambarkan adalah saat Mayjen TNI Soeharto menerima laporan dari Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.
Sementara Menteri/Panglima TNI Angkatan Darat Jenderal AH Nasution yang selamat dari upaya penculikan PKI beberapa jam sebelumnya duduk tidak jauh dari Soeharto dan Sarwo Edhie. "Tidak benar Kostrad mempunyai ide untuk membongkar patung Pak Harto, Pak Sarwo Edhie, dan Pak Nasution yang ada dalam ruang kerja Pak Harto di Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad," tutur Kapen Kostrad Kolonel Inf Haryantana, Senin (27/9/2021).Baca juga: Ketum PBNU: Bukan PKI Bahaya Laten tapi Terorisme dan Radikalisme
Lebih jauh dijelaskan Haryantana, pada 30 Agustus 2021, terdapat permintaan dari Letjen TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution selaku Pangkostrad ke-34 yang meminta bangunan tersebut untuk dibongkar. Permintaan Azmyn disampaikan langsung ke Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman. "Pembongkaran patung-patung tersebut atas keinginan Letjen TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution, karena pada saat menjabat Pangkostrad periode 9 Agustus 2011 sampai dengan 13 Maret 2012 dia yang membuat ide untuk pembuatan patung-patung tersebut" ujarnya.Baca juga: Kamp Plantungan, Penjara Perempuan Simpatisan Gerwani
Lihat Juga :