Robert Walter Monginsidi, Namanya Bagaikan Hantu yang Ditakuti Pasukan Belanda

Rabu, 25 Agustus 2021 - 05:32 WIB
Mereka menyerbu markas pejuang di Jonggaya pada siang hari jam 11.00. Pasukan Australia memmiliki senjata lengkap dan modern, sedangkan pemuda pejuang bersenjata sederhana dan seadanya. Tentu saja sungguh berat melawan pasukan Australia itu. Meskipun demikian para pemuda melawan dengan semangat tinggi.

Dalam pertempuran itu banyak pemuda pejuang yang gugur dan 46 pemuda ditangkap tentara Sekutu (Australia) termasuk Robert. Beruntunglah Robert mahir berbahasa asing dan dengan kepandaiannya berdiplomasi, Robert dapat meyakinkan para perwira Australia itu bahwa mereka itu adalah pemuda pejuang yang sedang menegakkan kemerdekaan bangsa dan Tanah Airnya, akhirnya mereka yang ditangkap itu dibebaskan.

Sementara itu pasukan NICA Belanda terus melancarkan pengejaran terhadap para pejuang, terpaksalah para pejuang mengundurkan diri dari kota dan membentuk markas-markas di daerah-daerah seperti Plongbangkeng, Jeneponto, Bulukumba, Bantaeng, Palopo, Kolaka, Majene, Enrekang dan Pare-Pare. Dari markas-markas daerah itu, seringkali pemuda memasuki kota mengadakan aksi penyerangan.

Mereka menculik dan membunuh mata-mata kaki tangan Belanda, sebaliknya pasukan Belanda sering pula melancarkan serangan ke daerah-daerah untuk menghajar dan menghancurkan kekuatan pemuda. Di antara para pejuang itu, maka para pelajar SMP Nasional yang menduduki tempat dan memperoleh nama yang baru. Mereka seringkali mengadakan gerakan yang merugikan pasukan Belanda terutama sekali pemuda Robert. Ia sangat berani dan bergerak sangat lincah, karena itu menjadi sasaran pasukan Belanda.

Robert menggabungkan diri pada pasukan Ronggeng Daeng Rono yang bermarkas di Plongbangkeng. Ia bertugas sebagai penyidik, karena mahir berbahasa asing dan mempunyai wajah yang mirip orang Indo-Belanda. Robert sering kali memasuki kota Ujung Pandang seorang diri, ia menyamar sebagai anggota tentara Belanda, di tengah jalan ia menghentikan Jeep tentara Belanda lalu ikut menumpang. Di tengah jalan Robert segera menodongkan pistolnya ke arah pengemudi yang dibuatnya tidak berdaya, senjatanya dirampas dan demikian pula mobilnya.

Pada hari yang lain ia memasuki markas Polisi Militer Belanda dan menempelkan plakat berisi ancaman yang ditandatanganinya sendiri. Dapatlah dibayangkan betapa terkejutnya tentara Belanda itu. Nama Robert bagaikan hantu yang sangat ditakuti oleh pasukan Belanda.

Berkali-kali ia melakukan aksi dan selalu berhasil. Robert adalah seorang pejuang yang selalu bersungguh-sungguh, ia pun seorang pemimpin yang tangguh. Pada tanggal 17 Juli 1946, Robert bersama-sama dengan para pemuda pejuang lainnya mendirikan organisasi perjuangan bernama Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), terdiri dari 19 satuan perjuangan.

Ranggong Daeng Romo menjadi panglima dari barisan LAPRIS ini, sedangkan Robert diserahi tugas Sekretaris Jenderal yang langsung memimpin operasi. Adapun program perjuangan LAPRIS ialah membasmi dan membersihkan mata-mata serta kaki tangan NICA (Belanda), menggangu lalu lintas dengan menghadang mobil tentara dan polisi Belanda, menghalangi kendaraan yang mengangkut barang dan bahan untuk kepentingan Belanda, membakar dan memusnahkan rumah serta bangunan vital milik pemerintah dan tentara Belanda, dan merampas senjata musuh.

Dia tidak tinggal di markas saja, tetapi ia langsung memberi contoh di lapangan, ia bergerak di sekitar kota Makasar (Ujung Pandang), Woga, Jeneponto, Malino dan Camba. Robert sendiri langsung memimpin pasukan Harimau Indonesia (HI). Pada tanggal 3 November 1946, dalam suatu pertempuran di Kota Barombong, Robert terluka dan terpaksa mengundurkan diri untuk sementara.

Sesudah sembuh, ia kembali melakukan aksi-aksi penyerangan lagi. Pada tanggal 21 Januari 1947, di Kassi-Kassi, terjadi pertempuran, disini gugur Emmi Saelan seorang pejuang putri yang sempat menewaskan delapan orang tentara Belanda dengan granat yang diledakkannya, tetapi Robert dapat meloloskan diri dari kepungan Belanda yang ketat itu.

Belanda makin gentar menghadapi Robert. Mereka memberi pengumuman, siapa yang dapat menangkap Robert hidup atau mati akan diberikan hadiah tetapi dia tidak pernah berhasil ditangkap.

Pasukan Belanda makin hari makin memperkuat penekanannya terhadap para pemuka pejuang. Banyak di antara mereka yang tertangkap, gugur atau meninggalkan Sulawesi Selatan menuju Pulau Jawa. Jumlah pemuda pejuang makin tipis, tetapi Robert tetap berdiri dengan teguh, “Saya berani berjuang untuk nusa dan bangsa, karena itu pula saya harus berani menanggung akibatnya”. Ia tetapi kuat dengan pendiriannya bahkan ia sering berjuang seorang diri mengacau pasukan Belanda yang terlatih dengan modern itu.

Pasukan Belanda makin mengganas untuk menekan perlawanan dan perjuangan rakyat Sulawesi Selatan, Belanda melakukan pembunuhan besar-besaran yang dipimpin oleh Algojo yang terkenal bengisnya, yaitu Kapten Raymond Paul Pierre Westerling. Belanda mengancam, barang siapa yang menyembunyikan, membantu dan melindungi kaum pejuang yang bergerilya di daerah maka mereka kan dibunuh.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!