CSPS UI Sebut Filosofi Pancasila Senjata Ampuh Perangi Covid-19
Rabu, 14 Juli 2021 - 14:24 WIB
Sila pertama, mengajak masyarakat makin mendekatkan diri pada yang maha kuasa. Sila kedua, kepedulian masyarakat saling membantu dalam kemanusiaan. Sila ketiga, bersatu bersama-sama memerangi Covid-19. Sila keempat, musyawarah dalam pengambilan keputusan strategis. Sila kelima, keadilan sosial dalam pelayanan kesehatan dan bantuan sosial penyintas dan masyarakat terdampak Covid-19. "Filosofi Pancasila diterima masyarakat dari Sabang sampai Merauke,"jelas Andi.
Hal yang sama juga dikatakan peneliti Marlon S Kansil menggambarkan dinamika politik, hukum, dan keamanan nasional yang terekam dalam perbincangan media sosial. Pada semester pertama ini intensitas polhukam meningkat. "Ada sekitar 24% yang berupa soundbite mendukung kebijakan pemerintah, namun 75% nya berupa noise," urainya.
Saat ini, kata peneliti CSPS Yanuardi Syukur, perlu dicari titik temu dalam bangunan kebangsaan. "Aktivis dan buzzer lebih banyak mengusung titik pisahnya, ini harus dikurangi," ujarnya.
Sementara Muhammad Hamdani memaparkan sejumlah kebijakan pemerintah yang kontroversial yang dapat memicu respons masyarakat, seperti dibukanya pintu masuk penerbangan internasional. Sedangkan, Ajeng Pramastuti melihat peran sosial media sangat penting untuk menyebarkan informasi positif penanganan Covid-19.
”Warga Indonesia yang terpapar Covid-19 mencapai 2,6 juta orang, dan meninggal 68.000 jiwa. Sebanyak 2,1 juta jiwa sembuh. Dalam beberapa pekan terakhir ini meningkat lagi dan kita dukung PPKM Darurat untuk mempercepat pemulihan," katanya.
Hal yang sama juga dikatakan peneliti Marlon S Kansil menggambarkan dinamika politik, hukum, dan keamanan nasional yang terekam dalam perbincangan media sosial. Pada semester pertama ini intensitas polhukam meningkat. "Ada sekitar 24% yang berupa soundbite mendukung kebijakan pemerintah, namun 75% nya berupa noise," urainya.
Saat ini, kata peneliti CSPS Yanuardi Syukur, perlu dicari titik temu dalam bangunan kebangsaan. "Aktivis dan buzzer lebih banyak mengusung titik pisahnya, ini harus dikurangi," ujarnya.
Sementara Muhammad Hamdani memaparkan sejumlah kebijakan pemerintah yang kontroversial yang dapat memicu respons masyarakat, seperti dibukanya pintu masuk penerbangan internasional. Sedangkan, Ajeng Pramastuti melihat peran sosial media sangat penting untuk menyebarkan informasi positif penanganan Covid-19.
”Warga Indonesia yang terpapar Covid-19 mencapai 2,6 juta orang, dan meninggal 68.000 jiwa. Sebanyak 2,1 juta jiwa sembuh. Dalam beberapa pekan terakhir ini meningkat lagi dan kita dukung PPKM Darurat untuk mempercepat pemulihan," katanya.
(cip)
Lihat Juga :