Terowongan Istiqlal-Katedral, Modal Sosial Kehidupan Beragama
Senin, 12 Juli 2021 - 11:00 WIB
Selain ditempuh melalui penguatan secara ideologis, kampanye moderasi beragama oleh pemerintah seolah terkonfirmasi secara simbolis melalui pembangunan terowongan silaturahmi Masjid Istiqlal-Gereja Katedral di ibu kota negara. Pembangunan terowongan ini sudah barang tentu mendapat berbagai respon dari masyarakat, baik respon positif maupun negatif. Pasalnya, bangunan infrastruktur, atau dalam konteks ini adalah terowongon, yang pada mulanya hanya memiliki nilai guna sebagai jembatan penghubung dari satu tempat ke tempat yang lain, dibubuhi nilai-nilai sosio-agama yakni berupa narasi kerukunan umat beragama.
Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch, misalnya, menyampaikan bahwa pembangunan terowongan tersebut sebenarnya tidak jelek, tetapi tidak pula dapat menyelesaikan persoalan intoleransi yang terjadi di Indonesia. Karena secara substansial, pembangunan tersebut tidak bersentuhan langsung dengan penyelesaian kasus-kasus intoleransi yang selama ini melanda Indonesia. Berbeda dengan Harsono, Plt Kepala BPJPH Kemenag Mastuki HS, dalam artikel opininya menulis, selain sebagai simbol penyatuan secara fisik, terowongan silaturahmi itu menurutnya juga merepresentasikan bertemunya hati, pikiran, sikap dan tindakan dua agama yang secara sosio-teologis memegang kendali utama dalam menciptakan kehidupan yang damai bagi masyarakat Indonesia.
Pembangunan terowongan silaturahmi itu saat ini sudah mencapai 61% selesai. Terowongan dibangun dengan panjang 28,3 m, tinggi 3 m, dan lebar 4,1 m. Desain interiornya berbahan marmer dan dilengkapi railing stainless. Tidak hanya menggunakan tangga, terowongan ini juga dilengkapi lift untuk mempermudah akses penyandang disabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa terowongan sengaja dibangun dan didesain sebagai fasilitas publik, tidak hanya untuk kepentingan nilai-nilai sosio-teologis.
Terowongan silaturahmi Istiqlal-Katedral ini sebenarnya bisa didekati dengan banyak sudut pandang, tetapi tulisan ini hendak melihatnya dari sudut pandang teori bridging social capital. Tujuannya adalah untuk melihat, modal sosial apa yang diberikan terowongan itu bagi masa depan kehidupana beragama di Indonesia. Membuat sebuah terowongan memang tidak lantas menjadikan Indonesia sebagai negara yang moderat, rukun dan bersih dari kasus intoleransi. Kendatipun demikian, terowongan silaturahmi tersebut dapat kita lihat sebagai sebuah modal sosial bagi masa depan kehidupan beragama di Indonesia.
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Sunyoto Usman membagi modal, sesuatu yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat sosial, menjadi empat tipe, yakni modal finansial, modal fisik, modal manusia atau human capital dan modal sosial. Terowongan silaturahmi sebagai bangunan bisa berperan sebagai modal fisik. Namun sebagai sebuah simbol, ia juga bisa berperan sebagai modal sosial. Modal fisik adalah faktor produksi barang atau jasa, dapat berupa bahan baku, seperti sumber daya alam dan bahan tambang atau berupa infrastruktur. Sedangkan modal sosial adalah usaha untuk mengelola, meningkatkan dan menggunakan relasi sosial untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat sosial.
Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch, misalnya, menyampaikan bahwa pembangunan terowongan tersebut sebenarnya tidak jelek, tetapi tidak pula dapat menyelesaikan persoalan intoleransi yang terjadi di Indonesia. Karena secara substansial, pembangunan tersebut tidak bersentuhan langsung dengan penyelesaian kasus-kasus intoleransi yang selama ini melanda Indonesia. Berbeda dengan Harsono, Plt Kepala BPJPH Kemenag Mastuki HS, dalam artikel opininya menulis, selain sebagai simbol penyatuan secara fisik, terowongan silaturahmi itu menurutnya juga merepresentasikan bertemunya hati, pikiran, sikap dan tindakan dua agama yang secara sosio-teologis memegang kendali utama dalam menciptakan kehidupan yang damai bagi masyarakat Indonesia.
Pembangunan terowongan silaturahmi itu saat ini sudah mencapai 61% selesai. Terowongan dibangun dengan panjang 28,3 m, tinggi 3 m, dan lebar 4,1 m. Desain interiornya berbahan marmer dan dilengkapi railing stainless. Tidak hanya menggunakan tangga, terowongan ini juga dilengkapi lift untuk mempermudah akses penyandang disabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa terowongan sengaja dibangun dan didesain sebagai fasilitas publik, tidak hanya untuk kepentingan nilai-nilai sosio-teologis.
Terowongan silaturahmi Istiqlal-Katedral ini sebenarnya bisa didekati dengan banyak sudut pandang, tetapi tulisan ini hendak melihatnya dari sudut pandang teori bridging social capital. Tujuannya adalah untuk melihat, modal sosial apa yang diberikan terowongan itu bagi masa depan kehidupana beragama di Indonesia. Membuat sebuah terowongan memang tidak lantas menjadikan Indonesia sebagai negara yang moderat, rukun dan bersih dari kasus intoleransi. Kendatipun demikian, terowongan silaturahmi tersebut dapat kita lihat sebagai sebuah modal sosial bagi masa depan kehidupan beragama di Indonesia.
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Sunyoto Usman membagi modal, sesuatu yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat sosial, menjadi empat tipe, yakni modal finansial, modal fisik, modal manusia atau human capital dan modal sosial. Terowongan silaturahmi sebagai bangunan bisa berperan sebagai modal fisik. Namun sebagai sebuah simbol, ia juga bisa berperan sebagai modal sosial. Modal fisik adalah faktor produksi barang atau jasa, dapat berupa bahan baku, seperti sumber daya alam dan bahan tambang atau berupa infrastruktur. Sedangkan modal sosial adalah usaha untuk mengelola, meningkatkan dan menggunakan relasi sosial untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat sosial.
Lihat Juga :