Di Tengah Pandemi Corona, Menteri LHK: Banyak Satwa Dilindungi Lahir

Senin, 25 Mei 2020 - 20:07 WIB
"Antara lain Gajah Sumatera di TSI Cisarua dan Gembira Loka Yogyakarta, komodo (12 ekor), burung Kasturi Raja (1 ekor), orangutan fitri di TSI Cisarua, Tarsius (1 ekor) di Faunaland Ancol, Kasuari (3 ekor) di R Zoo and Park di Sumatera Utara, serta satwa- satwa eksotik lainnya seperti jerapah, zebra dan common marmoset," ucap Siti.

"Ini menandakan bahwa pengelola LK telah menerapkan kesejahteraan satwa dengan baik sehingga satwa dapat berkembangbiak secara alami dan telah menjalankan fungsinya sebagai tempat pengembangbiakan di luar habitat yang tetap mempertahankan kemurnian genetiknya," tambah Siti Nurbaya.

Diharapkan, melalui program captive breeding ini, konservasi ex-situ link to in-situ bisa dijalankan dan pada akhirnya peningkatan populasi in-situ dapat tercapai. Hal ini juga dibuktikan oleh Kementerian LHK dengan telah melakukan pelepasliaran satwa ke habitat alaminya dari pusat rehabilitasi, pusat penyelamatan, dan unit konservasi satwa lainnya sebanyak 214.154 individu sejak tahun 2016-2020.

Menteri Siti Nurbaya juga menjelaskan, peningkatan populasi dapat dilakukan dengan membuat kantung-kantung baru populasi satwa dan menyelamatkan metapopulasi satwa yang sudah ada. Metapopulasi adalah kelompok populasi yang secara spasial terpisah dari jenis yang sama dan berinteraksi pada beberapa tingkatan.

"Untuk itu saya (sedang) kembangkan kebijakan untuk mendorong adanya konektivitas kantong-kantong satwa melalui pengembangan sistem kawasan lindung yang mencakup areal yg bernilai konservasi tinggi di konsesi-konsesi sektor kehutanan dan perkebunan. Kementerian LHK telah mengidentifikasi ada 1,4 juta area bernilai konservasi tinggi yang bisa masuk dalam sistem kawasan yang dilindungi," ungkapnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!