Hebat! Jenderal Kopassus Ini Bekuk Para Petinggi GAM Tanpa Sebutir Peluru Meletus
Rabu, 19 Mei 2021 - 06:13 WIB
Keduanya pun bertemu sekitar pukul 24.00 WIB. Dalam pertemuan itu Kolonel Sutarno menjelaskan jika Danjen Kopassus Mayjen TNI Yogie Suardi Memet memerintahkan adanya pergantian Komandan Karsa Yudha yang akan ditugaskan ke Aceh dari Mayor Yani Mulyadi kepada Mayor Infanteri Sutiyoso. ”Pasukan hanya bisa diberangkatkan jika kamu komandannya dan sudah harus berangkat jam 5 pagi nanti,” kata Kolonel Sutarno.
Sebagai perwira Kopassus yang sudah terlatih, Sutiyoso dengan sikap sigap dan siap menerima penugasan yang diberikan secara mendadak tersebut. Sutiyoso bersama 72 pasukannya kemudian berangkat ke Aceh menggunakan persawat Hercules. Pasukan Kopassandha yang dipimpin Sutiyoso dalam operasi intelijen tempur terbatas di Aceh ini diberi sandi Nanggala 27.
Setelah menjelajah hutan ke hutan selama tiga bulan, Sutiyoso nyaris frustasi karena belum berhasil mengendus keberadaan Hassan Tiro dan para petinggi GAM lainnya. Meski demikian Sutiyoso tidak menyerah, 72 pasukannya dibagi ke dalam kelompok kecil dan terus menyisir Aceh yang sedemikian luas mulai Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Barat, Pidie. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Keberadaan Hassan Tiro dan para petinggi GAM mulai tercium.
Sutiyoso pun semakin mengintensifkan local spies dan converted spies sehingga diperoleh informasi jika juru masak Hassan Tiro akan mengambil beras dari rumah dekat hutan. Sutiyoso kemudian mengepung rumah kecil di tengah sawah. Namun saat hendak mengambil beras, juru masak curiga dan berupaya melarikan diri namun berhasil dilumpuhkan. Dari informasi tersebut, Sutiyoso bergerak menuju tempat persembunyian Hassan Tiro. Setelah tiga hari mencapai lokasi persembuyian, namun Hassan Tiro telah pindah.
Sutiyoso kembali mendapat informasi jika Hassan Tiro mengutus seseorang untuk bertemu seorang guru ngaji di Lhokseumawe, setelah diselidiki ternyata utusan tersebut adalah Menteri Keuangan GAM bernama Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe. Tidak hanya itu, Sutiyoso juga berhasil mengetahui jika Usman ditampung oleh seorang pengusaha.
Sebagai perwira Kopassus yang sudah terlatih, Sutiyoso dengan sikap sigap dan siap menerima penugasan yang diberikan secara mendadak tersebut. Sutiyoso bersama 72 pasukannya kemudian berangkat ke Aceh menggunakan persawat Hercules. Pasukan Kopassandha yang dipimpin Sutiyoso dalam operasi intelijen tempur terbatas di Aceh ini diberi sandi Nanggala 27.
Setelah menjelajah hutan ke hutan selama tiga bulan, Sutiyoso nyaris frustasi karena belum berhasil mengendus keberadaan Hassan Tiro dan para petinggi GAM lainnya. Meski demikian Sutiyoso tidak menyerah, 72 pasukannya dibagi ke dalam kelompok kecil dan terus menyisir Aceh yang sedemikian luas mulai Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Barat, Pidie. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Keberadaan Hassan Tiro dan para petinggi GAM mulai tercium.
Sutiyoso pun semakin mengintensifkan local spies dan converted spies sehingga diperoleh informasi jika juru masak Hassan Tiro akan mengambil beras dari rumah dekat hutan. Sutiyoso kemudian mengepung rumah kecil di tengah sawah. Namun saat hendak mengambil beras, juru masak curiga dan berupaya melarikan diri namun berhasil dilumpuhkan. Dari informasi tersebut, Sutiyoso bergerak menuju tempat persembunyian Hassan Tiro. Setelah tiga hari mencapai lokasi persembuyian, namun Hassan Tiro telah pindah.
Sutiyoso kembali mendapat informasi jika Hassan Tiro mengutus seseorang untuk bertemu seorang guru ngaji di Lhokseumawe, setelah diselidiki ternyata utusan tersebut adalah Menteri Keuangan GAM bernama Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe. Tidak hanya itu, Sutiyoso juga berhasil mengetahui jika Usman ditampung oleh seorang pengusaha.
Lihat Juga :