Tumbuhnya Kesadaran terhadap Ruang Pertahanan Kita

Selasa, 18 Mei 2021 - 05:05 WIB
Ringkasnya hal-hal berkenaan dengan aspek pertahanan dan alutsista sedemikian berjarak dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kita sampai ketika tenggelamnya KRI Nanggala-402 secara perlahan membuka mata publik akan pentingnya memiliki alutsista dalam bidang-bidang pertahanan. Kejadian ini juga menunjukkan kepada masyarakat bahwa pertahanan negara merupakan suatu tugas yang berat dan kompleks.

Tenggelamnya KRI Nanggala-402 juga menyadarkan kita semua bahwa KRI Nanggala-402 bersama dengan KRI Cakra-401 adalah kapal selam yang tidak lagi muda. Sebab keduanya sudah menjaga perairan Indonesia selama empat dekade (1981–2021). Dua “kakak-beradik” ini merupakan kapal selam kelas cakra tipe 209/1300 yang sebenarnya memiliki ketangguhan dan unggul dalam tugas operasi senyap (stealth), di antaranya ketika jelang jajak pendapat di Timor Leste.

Pada masanya kapal selam buatan Howaldtswerke Jerman ini memang menarik minat banyak negara, tidak terkecuali Indonesia. Bahkan jejak ketertarikan Indonesia terhadap produsen kapal selam, khususnya yang berasal dari Jerman, sudah terlihat ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda.

Jaap Anten dalam “Navalisme nekt onderzeeboot: de invloed van internationale zeestrategieën op de Nederlandse zeestrategie voor de defensie van Nederlands-Indië, 1912-1942” menjelaskan bahwa Belanda yang saat itu sebagai negeri induk koloni Hindia Belanda merencanakan untuk memperkuat Hindia Belanda di bidang pertahanan maritim dengan merencanakan pengadaan 16 unit kapal selam yang diimpor dari Jerman melalui perusahaan Friedrich Krupp Germaniawerft pada permulaan tahun 1920.

Rancangan mengenai kebutuhan dan desain kapal selam tersebut tertuang dalam draf Vlootwet-Commisie tahun 1923. Sebagai persiapan, setahun sebelumnya, tepatnya pada Juli 1922, Krupp Germaniawerft mendirikan perusahaan gabungan di Belanda untuk memuluskan rencana pengadaan kapal selam Hindia Belanda tersebut. Dari sini Belanda juga memanfaatkan transfer pengetahuan dalam pembuatan kapal selam sendiri dengan melibatkan empat insinyur dari Jerman di galangan kapal Wilton-Fijenoord.

Puluhan tahun kemudian Indonesia baru memiliki kapal selam dari Jerman pada 1981. Adalah suatu kebetulan jika KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402 dibuat oleh Howaldtswerke di galangan kapal yang dulunya milik Friedrich Krupp Germaniawerft.

Tantangan Pengadaan-Modernisasi

Sebagai alutsista yang penting dalam bidang pertahanan, keberadaan kapal selam mutlak diperlukan negara maritim sebesar Indonesia. Keriuhan di bawah laut atas temuan Seagllider awal tahun lalu dan perlintasan kapal selam Prancis di perairan kita seharusnya disikapi dengan dukungan pengadaan dan modernisasi alutsista, khususnya kapal selam dan kendaraan nirawak bawah laut. Jika kita cermati, saat ini negara tetangga kita di kawasan Asia Tenggara sedang memperlihatkan gairahnya dalam memperkuat pertahanan bawah laut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!