Usulan AHY Soal Perhatian Penuh pada Keluarga Awak KRI Nanggala 402 Diapresiasi
Selasa, 27 April 2021 - 16:14 WIB
Harapan yang sama dinyatakan Pengamat Mochtar W Oetomo dari Surabaya. "47 dari 53 awak yang gugur berasal Jawa Timur. Arek-arek ini patriot bangsa yang sejati. Kejadian yang luar biasa. Sudah sepatutnya negara memperlakukan mereka dengan luar biasa. Jangan cukup mengikuti protap yang berlaku saja," ujar Mochtar yang juga mengelola lembaga survei Surabaya Survey Center (SSC).
"Jadi prajurit itu kontrak mati. Setiap prajurit tahu itu. Keluarganya pasti juga tahu. Tapi ketika akhirnya mereka gugur dalam tugas, peran mereka dalam keluarga masing-masing tetap tidak tergantikan. Karena itu setidak-tidaknya negara bisa meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Tiga hal yang diusulkan Demokrat, sudah pas," sambung Mochtar.
Di Jakarta, Pengamat Politik Adi Prayitno mengingatkan pemerintah agar tidak memandang usulan Demokrat dengan kacamata politik semata. "Lihatlah dari sisi kemanusiaan. Indonesia sedang berkabung nasional, kehilangan patriot terbaik. Peran para awak yang gugur sebagai Ayah, suami maupun anak dari keluarga yang mereka tinggalkan, tidak akan pernah tergantikan selamanya," pinta Adi.
Adi yang juga Dosen UIN Ciputat menganggap tiga usulan yang disampaikan Ketua Umum AHY relevan dengan kondisi yang dihadapi para keluarga prajurit. Baca juga: Duka KRI Nanggala-402: Gugur Tenggelam di Lautan adalah Syahid
"Mas AHY berdinas militer selama 16 tahun sebagai komandan. Ia mestinya tahu betapa berharganya setiap nyawa prajurit dan di balik setiap nyawa prajurit itu, ada keluarga yang menggantungkan hidupnya. Bayangkan saat kepala keluarga mereka gugur dalam tugas. Ini soal kemanusiaan," tandas Adi.
"Jadi prajurit itu kontrak mati. Setiap prajurit tahu itu. Keluarganya pasti juga tahu. Tapi ketika akhirnya mereka gugur dalam tugas, peran mereka dalam keluarga masing-masing tetap tidak tergantikan. Karena itu setidak-tidaknya negara bisa meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Tiga hal yang diusulkan Demokrat, sudah pas," sambung Mochtar.
Di Jakarta, Pengamat Politik Adi Prayitno mengingatkan pemerintah agar tidak memandang usulan Demokrat dengan kacamata politik semata. "Lihatlah dari sisi kemanusiaan. Indonesia sedang berkabung nasional, kehilangan patriot terbaik. Peran para awak yang gugur sebagai Ayah, suami maupun anak dari keluarga yang mereka tinggalkan, tidak akan pernah tergantikan selamanya," pinta Adi.
Adi yang juga Dosen UIN Ciputat menganggap tiga usulan yang disampaikan Ketua Umum AHY relevan dengan kondisi yang dihadapi para keluarga prajurit. Baca juga: Duka KRI Nanggala-402: Gugur Tenggelam di Lautan adalah Syahid
"Mas AHY berdinas militer selama 16 tahun sebagai komandan. Ia mestinya tahu betapa berharganya setiap nyawa prajurit dan di balik setiap nyawa prajurit itu, ada keluarga yang menggantungkan hidupnya. Bayangkan saat kepala keluarga mereka gugur dalam tugas. Ini soal kemanusiaan," tandas Adi.
(kri)
Lihat Juga :