Cegah Ancaman Radikalisme, Tanamkan Moderasi Sejak Dini
Jum'at, 16 April 2021 - 21:35 WIB
Dia mengatakan, berdasarkan hasil berbagai survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian, anak milenial ini sudah jauh termakan oleh gagasan-gagasan yang demikian yang jumlahnya cukup signifikan.
“Ini perlu kita pagari. Perlu kita mencari cara tepat untuk menghindarkan mereka dari sebaran virus-virus radikalisme,” katanya. Baca juga: Pemerintah Perlu Perkuat Resistensi Masyarakat terhadap Radikalisme
Sebab, lanjut dia, selama ini penanaman moderasi beragama dari paham kekerasan ini banyak menjadi konsumsi akademisi dan kaum inteletual sehingga kaum milenial ini sulit menerima, maka dirinya memberikan langkah-langkah yang harus ditempuh agar moderasi beragama ini bisa diterima kaum milenial.
Langkah untuk level pertama, kata dia, yakni perlunya membuat konten-konten yang terkait dengan pesan-pesan yang umum seperti mengenai pentingnya hidup bersama, pentingnya menjaga kehidupan yang damai bagi hidup bersama sebagai bangsa maupun sesama umat manusia.
“Ini penting dilakukan secara simultan, dari level yang paling bawah untuk milenial atau yang baru kenal atau baru mau belajar agama untuk mendapatkan pesan-pesan yang sederhana, pesan-pesan yang singkat dan pendek seperti dengan penyebaran flyer-flyer atau video-video pendek,” ucapnya.
Menurut dia, upaya ini selama ini masih kurang didengungkan ke kalangan milenial. Pemerintah diharapkan bisa berbuat lebih dari yang ada sekarang. “Karena masih sangat minoritas dibanding dengan konten-konten yang berseliweran di media sosial yang lebih yang lebih bercorak ke arah radikal itu. Pengamatan saya begitu,” kata Imdadun. Baca juga: Setiap Potensi Penyebaran Ideologi Radikalisme Harus Ditutup
Untuk level kedua, menurut mantan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) itu, berharap adanya konten-konten yang lebih "berat", yaitu penjelasan mengenai dalil-dalil dalam kitab suci yang bisa memberikan peneguhan dan pembenaran bahwa paham keagamaan yang moderat adalah yang benar, sesuai dengan Islam yang asli. Menurut dia, hal itu perlu argumen dan dalil.
“Konten-konten ini lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan dengan konten pertama tadi. Dalam hal ini memang peran para ustaz, para tokoh agama, para intelektual untuk menyediakan konten-konten yang berisi argumen, hujjah dan dalil-dalilnya. Jadi sudah harus menghadirkan dalil-dalilnya yang memberikan landasan bagi kebenaran Islam moderat itu, Islam wasathiyah, agama yang moderat itu. Itu untuk yang level menengah,” tuturnya.
“Ini perlu kita pagari. Perlu kita mencari cara tepat untuk menghindarkan mereka dari sebaran virus-virus radikalisme,” katanya. Baca juga: Pemerintah Perlu Perkuat Resistensi Masyarakat terhadap Radikalisme
Sebab, lanjut dia, selama ini penanaman moderasi beragama dari paham kekerasan ini banyak menjadi konsumsi akademisi dan kaum inteletual sehingga kaum milenial ini sulit menerima, maka dirinya memberikan langkah-langkah yang harus ditempuh agar moderasi beragama ini bisa diterima kaum milenial.
Langkah untuk level pertama, kata dia, yakni perlunya membuat konten-konten yang terkait dengan pesan-pesan yang umum seperti mengenai pentingnya hidup bersama, pentingnya menjaga kehidupan yang damai bagi hidup bersama sebagai bangsa maupun sesama umat manusia.
“Ini penting dilakukan secara simultan, dari level yang paling bawah untuk milenial atau yang baru kenal atau baru mau belajar agama untuk mendapatkan pesan-pesan yang sederhana, pesan-pesan yang singkat dan pendek seperti dengan penyebaran flyer-flyer atau video-video pendek,” ucapnya.
Menurut dia, upaya ini selama ini masih kurang didengungkan ke kalangan milenial. Pemerintah diharapkan bisa berbuat lebih dari yang ada sekarang. “Karena masih sangat minoritas dibanding dengan konten-konten yang berseliweran di media sosial yang lebih yang lebih bercorak ke arah radikal itu. Pengamatan saya begitu,” kata Imdadun. Baca juga: Setiap Potensi Penyebaran Ideologi Radikalisme Harus Ditutup
Untuk level kedua, menurut mantan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) itu, berharap adanya konten-konten yang lebih "berat", yaitu penjelasan mengenai dalil-dalil dalam kitab suci yang bisa memberikan peneguhan dan pembenaran bahwa paham keagamaan yang moderat adalah yang benar, sesuai dengan Islam yang asli. Menurut dia, hal itu perlu argumen dan dalil.
“Konten-konten ini lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan dengan konten pertama tadi. Dalam hal ini memang peran para ustaz, para tokoh agama, para intelektual untuk menyediakan konten-konten yang berisi argumen, hujjah dan dalil-dalilnya. Jadi sudah harus menghadirkan dalil-dalilnya yang memberikan landasan bagi kebenaran Islam moderat itu, Islam wasathiyah, agama yang moderat itu. Itu untuk yang level menengah,” tuturnya.
Lihat Juga :