Pengamat Militer dan Intelijen: Indonesia Tengah Menghadapi Perang Hybrid

Jum'at, 12 Maret 2021 - 10:48 WIB
Karenanya, kata Nuning, keterlibatan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam menangani Covid-19 sudah tepat. ”Jadi saya rasa, BIN melakukan tracing dan treatmen itu bukan hal yang keliru, memang ada digarda terdepan justru BIN ini. Kan kita perlu ada deteksi dini juga. Apabila BIN abai terhadap itu malah salah, karena BIN harus menjadi pengumpul informasi utama untuk presiden agar mengetahui sejauh mana bahayanya Covid-19 ini ada di negara kita,” katanya.

Apalagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah menginstruksikan kepada seluruh kementerian dan lembaga untuk melakukan realokasi dan refocusing anggaran termasuk BIN untuk Covid-19. ”Jadi tidak usah takut sama intelijen. Intelijen itu bukan momok, bukan hantu, bukan setan. Itu untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI dengan ideologi Pancasila dan UUD 45. Jadi jangan pernah takut dan jangan pernah takut juga berpartisipasi menjadi insan intelijen kita,” tegasnya.

Nuning juga meminta kepada masyarakat untuk pandai-pandai menghadapi perang hybrid. ”Jangan sampai tanpa literasi yang baik lalu percaya hoaks-hoaks, post truth dan disinformasi yang disengaja untuk menghancurkan negara kita. Walaupun belum masuk menjadi staf BIN, harus ada sense of intelijen, rasa ingin tahu, benar gak sih. Jangan menggenalisir pengetahuan yang salah sebagai sesuatu yang benar yang dinamakan post truth,” ucapnya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!