Tanpa SBY, Tak Ada Partai Demokrat di Indonesia
Selasa, 23 Februari 2021 - 17:57 WIB
Menurutnya, dalam sejumlah krisis yang dialami partai, yang paling genting adalah pada 2014. Saat itu, figur SBY yang mampu menyelamatkan partai. "Kala itu, sejumlah kader melakukan kesalahan dan mengakibatkan ambruknya elektabilitas partai," kata Herzaky.
Lebih jauh ia mengatakan, tanpa SBY, elektabilitas Partai Demokrat pada pemilu 2014 tinggal 3% karena dirusak oleh sejumlah kader. Dalam situasi itu, SBY turun tangan, dan Demokrat mampu mendapat 10%. Meski turun, tapi tidak terlalu curam. Turun, tapi sebagian karena faktor SBY yang tidak dapat kembali dicalonkan menjadi presiden untuk ketiga kali.
Baca juga: Darmizal: SBY Lah yang Mengambil Alih Demokrat dari Pendirinya
"Jadi, bukan SBY yang mengakibatkan partai mengalami krisis elektabilitas. Justru SBY yang turut menyelamatkan partai dari krisis elektabilitas," katanya.
Maka itu, lanjut Herzaky, mereka yang sekarang seolah mau "menyelamatkan partai", perlu bertanya pada dirinya sendiri: apakah Demokrat mampu jadi partai besar bila hanya ada mereka yang berjuang? Mampukah mereka menyelamatkan partai dari krisis elektabilitas? Kader yang lugu mungkin bisa dikelabui, tapi sejarah tidak.
"Pada 2014, krisis yang dialami partai diatasi oleh adanya SBY, bukan oleh mereka," katanya.
Di sisi lain, pada Pemilu 2019, Demokrat dalam berbagai survei, diprediksi hanya akan memperoleh 3-4% suara, dan diprediksi bisa gagal lolos Parlemen. Saat itu, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) selaku Komandan Kogasma, mengemban amanah memimpin kampanye Partai Demokrat.
Lebih jauh ia mengatakan, tanpa SBY, elektabilitas Partai Demokrat pada pemilu 2014 tinggal 3% karena dirusak oleh sejumlah kader. Dalam situasi itu, SBY turun tangan, dan Demokrat mampu mendapat 10%. Meski turun, tapi tidak terlalu curam. Turun, tapi sebagian karena faktor SBY yang tidak dapat kembali dicalonkan menjadi presiden untuk ketiga kali.
Baca juga: Darmizal: SBY Lah yang Mengambil Alih Demokrat dari Pendirinya
"Jadi, bukan SBY yang mengakibatkan partai mengalami krisis elektabilitas. Justru SBY yang turut menyelamatkan partai dari krisis elektabilitas," katanya.
Maka itu, lanjut Herzaky, mereka yang sekarang seolah mau "menyelamatkan partai", perlu bertanya pada dirinya sendiri: apakah Demokrat mampu jadi partai besar bila hanya ada mereka yang berjuang? Mampukah mereka menyelamatkan partai dari krisis elektabilitas? Kader yang lugu mungkin bisa dikelabui, tapi sejarah tidak.
"Pada 2014, krisis yang dialami partai diatasi oleh adanya SBY, bukan oleh mereka," katanya.
Di sisi lain, pada Pemilu 2019, Demokrat dalam berbagai survei, diprediksi hanya akan memperoleh 3-4% suara, dan diprediksi bisa gagal lolos Parlemen. Saat itu, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) selaku Komandan Kogasma, mengemban amanah memimpin kampanye Partai Demokrat.
Lihat Juga :