Membangun Reputasi IDI sebagai Organisasi Profesi Dokter
Kamis, 17 Desember 2020 - 05:10 WIB
Penguatan IDI
Kalau urusan menyusun buku manual organisasi, biasanya IDI jagonya. Masalah kadang muncul dari aspek kelembagaan, kemampuan kepemimpinan dan manajerial yang tidak merata, dan aspek pendanaan yang tidak mencukupi.
Bila diibaratkan mobil maka kelembagaan organisasi IDI meliputi body, mesin, roda, lampu dll. Kepemimpinan dan pemimpin adalah orang yang mengendalikan mobil. Sementara dana atau pendanaan adalah bahan bakarnya. Ketiga komponen ini harus berada dalam kondisi prima barulah mobil bernama IDI tampak elok dan mampu melaju cepat ke arah tujuan, membawa anggotanya menuju medan pengabdian melayani masyarakat.
Penguatan Kelembagaan
Pembentukan organisasi profesi selalu mengedepankan pentingnya independensi dan otonomi, serta mengutamakan kepentingan masyarakat. Sebagai salah satu pilar pokok pembangunan kesehatan, IDI perlu mengembangkan diri menjadi kelompok pencerah atau agen pembaharu. Mengadvokasi penentu kebijakan agar dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan mengutamakan manfaat dan keadilan bagi masyarakat.
Di tingkat PB IDI, hendaknya memaksimalkan fungsi “Tiga Serangkai Pimpinan” PB IDI, yakni Ketua Umum (President), Ketua Terpilih (President Elect), dan Ketua Purna (Immediate Past President). Word Medical Association (WMA) maupun Confederation of Medical Association in Asia and Oceania (CMAAO) menempatkan ketiganya sebagai “Presidium”, yang dapat mewakili organisasi secara resmi. Hal lain yang menarik dari WMA dan CMAAO adalah memaksimalkan fungsi General-Secretary untuk memegang posisi sangat penting sebagai Chief Executive untuk semua kegiatan organisai. Sebagai anggota aktif WMA dan CMAAO, tidak ada salahnya IDI mengadopsi mekanisme yang diterapkan organisasi kedokteran tersebut.
IDI perlu memperkuat fungsi dan tugas majelis-majelis, baik MKEK, MKKI, dan MPPK. Selanjutnya mengoptimalkan forum koordinasi antara sesama majelis dan antara majelis-majelis dan kepengurusan IDI sesuai tingkatannya. Untuk tingkat pusat, tentu saja PB IDI terutama Tiga Serangkai Pimpinan PB IDI sangat perlu mengetahui secara spesifik tentang Etik dari MKEK, pendidikan dan MKKI, serta pelayanan dari MPPK.
Terakhir, perlu merumuskan nilai tambah baru yang kelak menjadi kekuatan IDI, yang dapat menjadi sebab ia patut diperhitungkan oleh berbagai pihak. Misalnya IDI memiliki data atau akses data terkait dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia, fasilitas layanan kesehatan, data penyakit, data status gizi, dll. Dengan memiliki data atau akses data, maka IDI mampu menyusun suatu kebijakan organisasi yang baik, menyusun proyeksi kesehatan dengan tepat, serta menyusun konsep advokasi untuk memperjuangkan kepentingan profesi dan masyarakat.
Penguatan Kepemimpinan dan Manajemen
Kalau urusan menyusun buku manual organisasi, biasanya IDI jagonya. Masalah kadang muncul dari aspek kelembagaan, kemampuan kepemimpinan dan manajerial yang tidak merata, dan aspek pendanaan yang tidak mencukupi.
Bila diibaratkan mobil maka kelembagaan organisasi IDI meliputi body, mesin, roda, lampu dll. Kepemimpinan dan pemimpin adalah orang yang mengendalikan mobil. Sementara dana atau pendanaan adalah bahan bakarnya. Ketiga komponen ini harus berada dalam kondisi prima barulah mobil bernama IDI tampak elok dan mampu melaju cepat ke arah tujuan, membawa anggotanya menuju medan pengabdian melayani masyarakat.
Penguatan Kelembagaan
Pembentukan organisasi profesi selalu mengedepankan pentingnya independensi dan otonomi, serta mengutamakan kepentingan masyarakat. Sebagai salah satu pilar pokok pembangunan kesehatan, IDI perlu mengembangkan diri menjadi kelompok pencerah atau agen pembaharu. Mengadvokasi penentu kebijakan agar dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan mengutamakan manfaat dan keadilan bagi masyarakat.
Di tingkat PB IDI, hendaknya memaksimalkan fungsi “Tiga Serangkai Pimpinan” PB IDI, yakni Ketua Umum (President), Ketua Terpilih (President Elect), dan Ketua Purna (Immediate Past President). Word Medical Association (WMA) maupun Confederation of Medical Association in Asia and Oceania (CMAAO) menempatkan ketiganya sebagai “Presidium”, yang dapat mewakili organisasi secara resmi. Hal lain yang menarik dari WMA dan CMAAO adalah memaksimalkan fungsi General-Secretary untuk memegang posisi sangat penting sebagai Chief Executive untuk semua kegiatan organisai. Sebagai anggota aktif WMA dan CMAAO, tidak ada salahnya IDI mengadopsi mekanisme yang diterapkan organisasi kedokteran tersebut.
IDI perlu memperkuat fungsi dan tugas majelis-majelis, baik MKEK, MKKI, dan MPPK. Selanjutnya mengoptimalkan forum koordinasi antara sesama majelis dan antara majelis-majelis dan kepengurusan IDI sesuai tingkatannya. Untuk tingkat pusat, tentu saja PB IDI terutama Tiga Serangkai Pimpinan PB IDI sangat perlu mengetahui secara spesifik tentang Etik dari MKEK, pendidikan dan MKKI, serta pelayanan dari MPPK.
Terakhir, perlu merumuskan nilai tambah baru yang kelak menjadi kekuatan IDI, yang dapat menjadi sebab ia patut diperhitungkan oleh berbagai pihak. Misalnya IDI memiliki data atau akses data terkait dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia, fasilitas layanan kesehatan, data penyakit, data status gizi, dll. Dengan memiliki data atau akses data, maka IDI mampu menyusun suatu kebijakan organisasi yang baik, menyusun proyeksi kesehatan dengan tepat, serta menyusun konsep advokasi untuk memperjuangkan kepentingan profesi dan masyarakat.
Penguatan Kepemimpinan dan Manajemen
Lihat Juga :