Lima Jenderal TNI 'Adu Kuat' Nyapres 2024, Siapa Unggul?
Sabtu, 28 November 2020 - 08:46 WIB
Sebenarnya, bukan hal yang mengejutkan jika elektabilitas Prabowo masih moncer. Dengan modal capres dua kali berturut-turut pada 2014 dan di 2019, sangat lumrah jika elektabilitasnya masih tinggi. Namun, apakah rating Prabowo tersebut akan bertahan hingga 2024? Masih perlu pembuktian. Salah satu keuntungan Prabowo adalah saat ini dia punya 'panggung' untuk menjaga pamornya. Jabatan sebagai Menteri Pertahanan bisa ia manfaatkan untuk menunjukkan kinerja yang baik agar dukungan publik terjaga.
Kedua, Prabowo memiliki partai. Artinya, kendaraan politik untuk kembali maju capres bukan hal yang susah baginya. Gerindra partai terbesar ketiga di parlemen saat ini dengan 78 kursi. Sehingga, untuk mengusung capres-cawapres—meskipun nanti presidential threshold tetap 20%—Gerindra hanya perlu kaolisi dengan satu atau dua partai.
(Baca juga: Kasus Menteri Edhy dan Peluang Prabowo di Pilpres 2024 ).
Pilpres 2024 bisa disebut pertarungan terakhir Prabowo. Pada 2024 nanti pria kelahiran 17 Oktober 1951 ini sudah berusia 73 tahun. Jika kembali bertarung di 2024, itu menjadi pertarungan keempat kalinya bagi Prabowo setelah pada 2009 juga maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri.
Nasib baik bisa saja memihak Prabowo di pilpres keempatnya. Terutama jika kabar bahwa dia akan berpasangan dengan kader PDIP Puan Maharani benar terjadi. Sudah sering diperbincangkan rencana duet Prabowo dengan Puan yang juga putri dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri itu. Duet Prabowo-Puan disebut-sebut berpeluang besar memenangi pertarungan karena menggabungkan kekuatan dua parpol besar, yakni PDIP dan Gerindra.
Jika maju di pilpres berkoalisi dengan PDIP, kans Prabowo memang bisa mengecil. Ini tak lain disebabkan hilangnya sebagian basis pendukungnya, terutama dari kalangan umat Islam. Pemilih Prabowo di dua pilpres sebelumnya berpotensi meninggalkannya sebagai bentuk kekecewaan atas masuknya Prabowo ke dalam barisan pendukung pemerintahan Jokowi.
Kampanye negatif yang juga bisa merugikan Prabowo yakni anggapan bahwa dia tidak pernah bisa memenangi pilpres, terbukti sudah tiga kali maju namun selalu gagal.
3. Andika Perkasa
Jenderal Andika Perkasa. Foto/Dok SINDOnews
Nama KSAD Jenderal Andika Perkasa mulai disebut-sebut sebagai figur yang layak menjadi capres atau cawapres. Muda dan memiliki karier militer yang cemerlang jadi alasan mengapa Andika cukup diperhitungkan.
Andika berpeluang mendapat dukungan Istana. Dia sosok yang cukup dekat dengan Jokowi karena pernah menjabat sebagai Komandan Paspampres. Nilai lebih jenderal bintang 4 ini adalah statusnya sebagai menantu dari AM Hendropriyono – salah satu sosok berpengaruh di pemerintahan Jokowi selain Luhut Pandjaitan.
Andika lahir pada 21 Desember 1964 atau hampir berusia 57 tahun. Dengan usia yang lebih muda dibanding beberapa seniornya di TNI, itu menjadi nilai plus.
(Baca juga: Kans Gatot Nurmantyo dan Andika Perkasa di Pilpres 2024 Ditentukan Hal Ini ).
Andika akan pensiun dari TNI pada 2023, atau setahun jelang pilpres. Itu momentum bagus buatnya. Ada jeda waktu setahun untuk menggalang kekuatan poliitik. Nama Andika tentu akan semakin diperhitungkan apabila nanti dia yang dipilih oleh Jokowi menjadi Panglima TNI menggantikan Marsekal Hadi Tjahjanto. Andika bersama KSAL Laksamana TNI Yudo Margono disebut-sebut paling berpeluang menjabat Panglima TNI berikutnya.
Sejauh ini elektabilitas Andika masih di bawah seniornya seperti Gatot Nurmantyo atau Prabowo Subianto. Terlebih lagi dengan AHY. Untuk memudahkan langkahnya menuju pilpres, pilihan Andika adalah bergabung ke parpol, atau justru membentuk parpol sendiri. Tanpa itu, langkah Andika maju pilpres akan cukup berat.
4. Moeldoko
Kedua, Prabowo memiliki partai. Artinya, kendaraan politik untuk kembali maju capres bukan hal yang susah baginya. Gerindra partai terbesar ketiga di parlemen saat ini dengan 78 kursi. Sehingga, untuk mengusung capres-cawapres—meskipun nanti presidential threshold tetap 20%—Gerindra hanya perlu kaolisi dengan satu atau dua partai.
(Baca juga: Kasus Menteri Edhy dan Peluang Prabowo di Pilpres 2024 ).
Pilpres 2024 bisa disebut pertarungan terakhir Prabowo. Pada 2024 nanti pria kelahiran 17 Oktober 1951 ini sudah berusia 73 tahun. Jika kembali bertarung di 2024, itu menjadi pertarungan keempat kalinya bagi Prabowo setelah pada 2009 juga maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri.
Nasib baik bisa saja memihak Prabowo di pilpres keempatnya. Terutama jika kabar bahwa dia akan berpasangan dengan kader PDIP Puan Maharani benar terjadi. Sudah sering diperbincangkan rencana duet Prabowo dengan Puan yang juga putri dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri itu. Duet Prabowo-Puan disebut-sebut berpeluang besar memenangi pertarungan karena menggabungkan kekuatan dua parpol besar, yakni PDIP dan Gerindra.
Jika maju di pilpres berkoalisi dengan PDIP, kans Prabowo memang bisa mengecil. Ini tak lain disebabkan hilangnya sebagian basis pendukungnya, terutama dari kalangan umat Islam. Pemilih Prabowo di dua pilpres sebelumnya berpotensi meninggalkannya sebagai bentuk kekecewaan atas masuknya Prabowo ke dalam barisan pendukung pemerintahan Jokowi.
Kampanye negatif yang juga bisa merugikan Prabowo yakni anggapan bahwa dia tidak pernah bisa memenangi pilpres, terbukti sudah tiga kali maju namun selalu gagal.
3. Andika Perkasa
Jenderal Andika Perkasa. Foto/Dok SINDOnews
Nama KSAD Jenderal Andika Perkasa mulai disebut-sebut sebagai figur yang layak menjadi capres atau cawapres. Muda dan memiliki karier militer yang cemerlang jadi alasan mengapa Andika cukup diperhitungkan.
Andika berpeluang mendapat dukungan Istana. Dia sosok yang cukup dekat dengan Jokowi karena pernah menjabat sebagai Komandan Paspampres. Nilai lebih jenderal bintang 4 ini adalah statusnya sebagai menantu dari AM Hendropriyono – salah satu sosok berpengaruh di pemerintahan Jokowi selain Luhut Pandjaitan.
Andika lahir pada 21 Desember 1964 atau hampir berusia 57 tahun. Dengan usia yang lebih muda dibanding beberapa seniornya di TNI, itu menjadi nilai plus.
(Baca juga: Kans Gatot Nurmantyo dan Andika Perkasa di Pilpres 2024 Ditentukan Hal Ini ).
Andika akan pensiun dari TNI pada 2023, atau setahun jelang pilpres. Itu momentum bagus buatnya. Ada jeda waktu setahun untuk menggalang kekuatan poliitik. Nama Andika tentu akan semakin diperhitungkan apabila nanti dia yang dipilih oleh Jokowi menjadi Panglima TNI menggantikan Marsekal Hadi Tjahjanto. Andika bersama KSAL Laksamana TNI Yudo Margono disebut-sebut paling berpeluang menjabat Panglima TNI berikutnya.
Sejauh ini elektabilitas Andika masih di bawah seniornya seperti Gatot Nurmantyo atau Prabowo Subianto. Terlebih lagi dengan AHY. Untuk memudahkan langkahnya menuju pilpres, pilihan Andika adalah bergabung ke parpol, atau justru membentuk parpol sendiri. Tanpa itu, langkah Andika maju pilpres akan cukup berat.
4. Moeldoko
Lihat Juga :