Epidemiolog: Imunisasi Investasi Kesehatan Bagi Masa Depan Anak Indonesia
Selasa, 17 November 2020 - 16:54 WIB
“Mengontrol adalah menekan insiden penyakit menular. Sedangkan mengeliminasi adalah menekan hingga angka yang sangat rendah, bisa sampai nol, tapi virusnya tidak hilang. Mengeradikasi artinya, di samping kita bisa menekan penularan sampai nol, virusnya juga bisa hilang. Seperti misalnya cacar yang tidak ditemukan lagi adanya virus cacar sehingga kita bisa dikatakan mengeradikasi cacar,” terang Nyoman.
Diketahui, cakupan imunisasi rutin Polio yang dimulai dari 1995, sempat menurun akibat terdampak krisis multi dimensi pada periode 1998-2002. Pada 2002 baru pemerintah melakukan PIN kembali. Pada 2005 virus Polio liar (wild Polio virus) teridentifikasi di Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat.
“Penanganan virus Polio di Cidahu sebenarnyatelah dilakukan dalam tindakan cepat yang dikenal sebagai sub PIN, supaya virus polio liar yang masuk Cidahu tidak menyebar. Tapi virus tersebut menyebar ke Sumatera dan wilayah lainnya,” jelas Nyoman.
Pemerintah kemudian menetapkannya sebagai KLB dan kembali menjalankan PIN. Hasilnya, Polio kembali sukses diberantas pada 2006. Kemudian pada 2014, label bebas Polio diberikan WHO kepada Indonesia. (Baca juga: BPOM: Vaksin Sinovac Rampung Uji Klinis III, Masuk Monitoring)
“Sampai saat ini tidakditemukan lagi penderita Polio yang disebabkan virus polio liar. Jadi apa yang bisa dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus? Cakupan imunisasi harus setinggi-tingginya, bila perlu 100 persen,” terang Nyoman.
Diketahui, cakupan imunisasi rutin Polio yang dimulai dari 1995, sempat menurun akibat terdampak krisis multi dimensi pada periode 1998-2002. Pada 2002 baru pemerintah melakukan PIN kembali. Pada 2005 virus Polio liar (wild Polio virus) teridentifikasi di Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat.
“Penanganan virus Polio di Cidahu sebenarnyatelah dilakukan dalam tindakan cepat yang dikenal sebagai sub PIN, supaya virus polio liar yang masuk Cidahu tidak menyebar. Tapi virus tersebut menyebar ke Sumatera dan wilayah lainnya,” jelas Nyoman.
Pemerintah kemudian menetapkannya sebagai KLB dan kembali menjalankan PIN. Hasilnya, Polio kembali sukses diberantas pada 2006. Kemudian pada 2014, label bebas Polio diberikan WHO kepada Indonesia. (Baca juga: BPOM: Vaksin Sinovac Rampung Uji Klinis III, Masuk Monitoring)
“Sampai saat ini tidakditemukan lagi penderita Polio yang disebabkan virus polio liar. Jadi apa yang bisa dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus? Cakupan imunisasi harus setinggi-tingginya, bila perlu 100 persen,” terang Nyoman.
(kri)
Lihat Juga :