Presiden RI Keenam, SBY Ajak Pimpinan Negara Islam dan Barat Menahan Diri
Senin, 02 November 2020 - 17:32 WIB
"Masalah dan benturan terjadi , sejak penggambaran karikatur Nabi Muhammad di Denmark tahun 2005, penerbitan karikatur yang serupa oleh Charlie Hebdo di Paris tahun 2015, penerbitan ulang karikatur yang dimuat Charlie Hebdo di tahun 2020 ini, dan yang paling akhir adalah dipertontonkannya karikatur Nabi Muhammad kepada publik akhir-akhir ini. Tentu dibarengi dengan berbagai reaksi dan respons dari kalangan umat Islam, yang sebagian dari padanya dinilai melampaui batas dan tak bisa dibenarkan," kata SBY dalam podcastnya.
Tapi, sambung Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini, dirinya juga mengecam aksi-aksi teror dan kekerasan lainnya yang terjadi di Prancis sehubungan dengan kemelut karikatur Nabi Muhammad itu. Atas nama apa pun, tindakan terorisme tak bisa dibenarkan.
"Kita, dan saya yakin para pemimpin lain di seluruh dunia, berada dalam satu perahu dalam soal ini. Yang saya pikirkan adalah bagaimana aksi-aksi kekerasan dan teror itu tak terus terjadi, baik di Prancis maupun wilayah mana pun di dunia," ujarnya.
Presiden RI periode 2004-2014 ini melihat, bahwa saat ini situasi memang sedang panas. Sudah semestinya pemimpin dari pihak mana pun, baik pemimpin Barat maupun pemimpin Islam, bisa menahan diri serta tidak memprovokasi dan mengagitasi, agar situasinya tidak semakin buruk dan berbahaya.
"Yang diperlukan adalah kepedulian, tekad dan aksi nyata para pemimpin, untuk mencari solusi agar pertikaian ini tak terus berlangsung," ajak mantan Menko Polhukam era Megawati itu.
Atas pertimbangan itu semua, SBY berharap bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron sebagaimana yang telah ia uraikan. Ia yakin bahwa harapannya juga harapan umat Islam di seluruh dunia, untjkuk menghentikan penggambaran dan publikasi karikatur Nabi Muhammad. Kalau ini bisa dilakukan, itu sebuah awal yang menjanjikan harapan (a good beginning, a new beginning).
Tapi, sambung Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini, dirinya juga mengecam aksi-aksi teror dan kekerasan lainnya yang terjadi di Prancis sehubungan dengan kemelut karikatur Nabi Muhammad itu. Atas nama apa pun, tindakan terorisme tak bisa dibenarkan.
"Kita, dan saya yakin para pemimpin lain di seluruh dunia, berada dalam satu perahu dalam soal ini. Yang saya pikirkan adalah bagaimana aksi-aksi kekerasan dan teror itu tak terus terjadi, baik di Prancis maupun wilayah mana pun di dunia," ujarnya.
Presiden RI periode 2004-2014 ini melihat, bahwa saat ini situasi memang sedang panas. Sudah semestinya pemimpin dari pihak mana pun, baik pemimpin Barat maupun pemimpin Islam, bisa menahan diri serta tidak memprovokasi dan mengagitasi, agar situasinya tidak semakin buruk dan berbahaya.
"Yang diperlukan adalah kepedulian, tekad dan aksi nyata para pemimpin, untuk mencari solusi agar pertikaian ini tak terus berlangsung," ajak mantan Menko Polhukam era Megawati itu.
Atas pertimbangan itu semua, SBY berharap bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron sebagaimana yang telah ia uraikan. Ia yakin bahwa harapannya juga harapan umat Islam di seluruh dunia, untjkuk menghentikan penggambaran dan publikasi karikatur Nabi Muhammad. Kalau ini bisa dilakukan, itu sebuah awal yang menjanjikan harapan (a good beginning, a new beginning).
Lihat Juga :