Listrik dan Peradaban
Selasa, 27 Oktober 2020 - 06:11 WIB
Di negeri kita, listrik mulai hadir pada awal abad ke-20. Dengan adanya listrik, manusia bisa berkreasi secara optimal, dan produk yang dihasilkan menjadi penanda zaman. Dengan kata lain, ada dua predikat pada listrik. Pertama, keberadaannya merupakan penanda zaman, kedua, listrik menjadi faktor penting munculnya penanda zaman lainnya, seperti ekonomi, pendidikan, kesenian, politik, dan lain-lain.
Dengan adanya listrik, kehidupan di kota seperti Jakarta (Batavia) bisa menjadi lebih semarak, dengan durasi lebih panjang. Berkat penerangan pada malam hari, pentas kesenian seperti Tonil (Dardanela), klub eksklusif (Societeit Harmonie), gambar hidup (film), pentas kelompok musik (keroncong atau gambus), tetap bisa dilangsungkan.
Listrik juga memberi kemudahan bagi The Founding Fathers mengasah gagasan soal kemerdekaan. Menyebut salah satunya, karya Soekarno Di Bawah Bendera Revolusi, ditulisnya pada malam hening dengan penerangan listrik. Begitu juga yang terjadi di asrama mahasiswa Kramat Raya 106, kini Museum Sumpah Pemuda, para pemuda berdiskusi hingga larut malam, termasuk mempersiapkan kongres pemuda 1928.
Demikian juga yang terjadi di Solo, tempat saya tinggal, kota yang sejak lama dikenal sebagai episentrum tradisi Jawa. Pencapaian itu tidak bisa dilepaskan dari dua faktor, yaitu Paku Buwono X yang memerintah periode 1893–1939 dan aliran listrik. Sebagai raja yang dikenal visioner, PB X menjadikan Solo sebagai kota yang paling awal dialiri listrik di luar Batavia. Solo pada masa PB X, adalah Solo yang “terang” pada malam hari.
Pembangkit listrik dengan tenaga diesel mulai menerangi Solo pada 19 April 1902. Dengan adanya listrik, kegiatan perdagangan dan kesenian bisa dilakukan di malam hari, termasuk pertandingan sepak bola dan pentas wayang di Taman Sriwedari. Tembang lawas “Solo di Waktu Malam”, secara tidak langsung adalah pengakuan keberadaan aliran listrik di Solo saat itu. Melihat peran dan sejarahnya, Kuntoro Mangunsubroto, Dirut PLN periode 2000–2001, pernah mengatakan PLN adalah perusahaan yang paling “merah-putih”. PLN hadir di seluruh pelosok negeri, dari Sabang sampai Merauke. Tidak sebatas masyarakat perkotaan, juga di perdesaan, bahkan masyarakat di daerah terisolasi membutuhkan aliran listrik.
Karenanya, PLN harus kita jaga agar terus maju dan semakin berkembang dalam melayani pelanggan. Selain berperan besar dalam kehidupan, PLN memiliki riwayat perjuangan patriotisme yang hampir sama dengan perusahaan kereta api (PT KAI), perkebunan (PTPN), jasa pos (PT Pos Indonesia), pelayaran (PT Pelni), telekomunikasi (PT Telkom Indonesia), dan lainnya. Tidak berlebihan jika PLN layak disebut sebagai cagar budaya.
Terus Menerangi
Dengan adanya listrik, kehidupan di kota seperti Jakarta (Batavia) bisa menjadi lebih semarak, dengan durasi lebih panjang. Berkat penerangan pada malam hari, pentas kesenian seperti Tonil (Dardanela), klub eksklusif (Societeit Harmonie), gambar hidup (film), pentas kelompok musik (keroncong atau gambus), tetap bisa dilangsungkan.
Listrik juga memberi kemudahan bagi The Founding Fathers mengasah gagasan soal kemerdekaan. Menyebut salah satunya, karya Soekarno Di Bawah Bendera Revolusi, ditulisnya pada malam hening dengan penerangan listrik. Begitu juga yang terjadi di asrama mahasiswa Kramat Raya 106, kini Museum Sumpah Pemuda, para pemuda berdiskusi hingga larut malam, termasuk mempersiapkan kongres pemuda 1928.
Demikian juga yang terjadi di Solo, tempat saya tinggal, kota yang sejak lama dikenal sebagai episentrum tradisi Jawa. Pencapaian itu tidak bisa dilepaskan dari dua faktor, yaitu Paku Buwono X yang memerintah periode 1893–1939 dan aliran listrik. Sebagai raja yang dikenal visioner, PB X menjadikan Solo sebagai kota yang paling awal dialiri listrik di luar Batavia. Solo pada masa PB X, adalah Solo yang “terang” pada malam hari.
Pembangkit listrik dengan tenaga diesel mulai menerangi Solo pada 19 April 1902. Dengan adanya listrik, kegiatan perdagangan dan kesenian bisa dilakukan di malam hari, termasuk pertandingan sepak bola dan pentas wayang di Taman Sriwedari. Tembang lawas “Solo di Waktu Malam”, secara tidak langsung adalah pengakuan keberadaan aliran listrik di Solo saat itu. Melihat peran dan sejarahnya, Kuntoro Mangunsubroto, Dirut PLN periode 2000–2001, pernah mengatakan PLN adalah perusahaan yang paling “merah-putih”. PLN hadir di seluruh pelosok negeri, dari Sabang sampai Merauke. Tidak sebatas masyarakat perkotaan, juga di perdesaan, bahkan masyarakat di daerah terisolasi membutuhkan aliran listrik.
Karenanya, PLN harus kita jaga agar terus maju dan semakin berkembang dalam melayani pelanggan. Selain berperan besar dalam kehidupan, PLN memiliki riwayat perjuangan patriotisme yang hampir sama dengan perusahaan kereta api (PT KAI), perkebunan (PTPN), jasa pos (PT Pos Indonesia), pelayaran (PT Pelni), telekomunikasi (PT Telkom Indonesia), dan lainnya. Tidak berlebihan jika PLN layak disebut sebagai cagar budaya.
Terus Menerangi
Lihat Juga :