Soal Travel Bubble, PHRI Nantikan Kepastian Pemerintah
Kamis, 22 Oktober 2020 - 14:24 WIB
Di Bali misalnya, lanjut Yusran, dari rata-rata okupansi per tahun (year on year/yoy) terhadap sektor penginapan atau hotel, sekitar 60 persen merupakan kontribusi dari kunjungan wisman. Adapun wisatawan nusantara (wisnus) paling tinggi hanya mencapai 40 persen.
“Intinya, kalau kita hanya sekadar gerakkan domestik ke Bali, okupansi hotel di sana paling tinggi hanya 25-30 persen. Tidak mungkin akan mencapai lebih dari itu karena jumlah hotel atau suplai kamar yang ada dengan beragam kelasnya, mayoritas yang menghuni adalah wisman,” terang dia.
Atas dasar pertimbangan tersebut, Yusran mendukung rencana kebijakan travel bubble yang dikeluarkan atas kesepakatan antarnegara tertentu untuk sektor pariwisata dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. “Itu cukup baik. Kita sangat berharap. Kita justru menunggu itu,” ujarnya.
Meski ide tersebut belum menjadi kenyataan, PHRI memahami sikap pemerintah yang lebih memfokuskan pada penanggulangan kasus positif Covid-19 dan angka kematian yang saat ini masih tinggi. Apalagi, saat ini pemerintah gencar melakukan pengujian dan penelusuran terhadap kasus paparan virus Corona.
Adanya pengujian secara massif itu dinilai secara perlahan akan berdampak pada menurunnya positivity rate. Bahkan, Yusran meyakini hal itu dapat memicu negara lain mulai percaya dan merubah kebijakan sehingga membuka kembali kesempatan bagi warganya berkunjung ke Indonesia.
Khusus wilayah yang menjadi konsentrasi travel bubble ini, PHRI mendorong penanganan kasus Covid-19 dan pengawasan protokol kesehatan harus ditingkatkan. Dengan begitu, ada kepercayaan dari wisman untuk kembali datang ke Indonesia.
“Intinya, kalau kita hanya sekadar gerakkan domestik ke Bali, okupansi hotel di sana paling tinggi hanya 25-30 persen. Tidak mungkin akan mencapai lebih dari itu karena jumlah hotel atau suplai kamar yang ada dengan beragam kelasnya, mayoritas yang menghuni adalah wisman,” terang dia.
Atas dasar pertimbangan tersebut, Yusran mendukung rencana kebijakan travel bubble yang dikeluarkan atas kesepakatan antarnegara tertentu untuk sektor pariwisata dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. “Itu cukup baik. Kita sangat berharap. Kita justru menunggu itu,” ujarnya.
Meski ide tersebut belum menjadi kenyataan, PHRI memahami sikap pemerintah yang lebih memfokuskan pada penanggulangan kasus positif Covid-19 dan angka kematian yang saat ini masih tinggi. Apalagi, saat ini pemerintah gencar melakukan pengujian dan penelusuran terhadap kasus paparan virus Corona.
Adanya pengujian secara massif itu dinilai secara perlahan akan berdampak pada menurunnya positivity rate. Bahkan, Yusran meyakini hal itu dapat memicu negara lain mulai percaya dan merubah kebijakan sehingga membuka kembali kesempatan bagi warganya berkunjung ke Indonesia.
Khusus wilayah yang menjadi konsentrasi travel bubble ini, PHRI mendorong penanganan kasus Covid-19 dan pengawasan protokol kesehatan harus ditingkatkan. Dengan begitu, ada kepercayaan dari wisman untuk kembali datang ke Indonesia.
Lihat Juga :