Komite I DPD Sebut Didi Kempot Pejuang Pelestarian Bahasa Daerah

Rabu, 06 Mei 2020 - 10:48 WIB
Wakil Ketua Komite I DPD dari Dapil Jawa Tengah Abdul Kholik menyebut, maestro Campur Sari Didi Kempot sebagai pejuang pelestarian bahasa daerah. Foto/SIINDOnews
Meninggalnya sang maestro Campur Sari Didi Kempot pada Selasa, 5 Mei 2020, menyentak semua orang. “Kita berduka dan kehilangan seniman Campur Sari sekaligus Pejuang Pelestarian Bahasa Daerah. Innalillahi wainna Ilaihi roji’un," ungkap Wakil Ketua Komite I DPD dari Dapil Jawa Tengah Abdul Kholik, Rabu (6/5/2020). (Baca juga: Ini Profil Didi Kempot, God Father of Broken Heart dari Solo)

Kholik mengatakan, terasa baru lewat sejenak Didi Kempot menggelar konser Peduli COVID-19 dari rumah yang didedikasikan untuk penanganan Corona. "Mas Didi memang sangat peduli dampak Corona, dan bisa merasakan betapa dasyatnya dampak wabah ini. Almarhum menciptakan lagu “Ojo Mudik” sebagai pesan kepada kita semua untuk mengikuti kebijakan larangan mudik yang ditetapkan Pemerintah untuk mencegah penyebaran virus saat ritual mudik Lebaran," katanya. (Baca juga: Didi Kempot Duta Relawan Antinarkoba, BNN Bersedih Atas Kepergiannya)



Menurutnya, kepergian seniman yang mendapat julukan The Godfather of Broken Heart untuk selamanya menjadi duka dan kehilangan mendalam bagi semua orang. Terlebih bagi jutaan penggemarnya, Sobat Ambyar yang berada dimanapun. "Karya Mas Didi yang mencapai 400-an lagu menegaskan kehebatan dan kesetiaan seorang seniman tanpa batas. Mulai dari merintis mengenalkan dan mempopulerkan musik Campaur Sari di jalanan hingga membawa Campur Sari menjadi musik yang diterima semua kalangan," paparnya.

Sebagai musik yang basisnya kental dengan nuansa daerah, kata Kholik, semua lagu Campur Sari menggunakan bahasa Jawa. Selain itu, setting lagu-lagunya selalu dekat dengan kehidupan sehari hari dan mengambil idiom-idiom kerakyatan. Stasiun Balapan, Suket Teki, Tatu, Ambyar, Cidro, Pamer Bojo, hanyalah beberapa contoh lagu yang menegaskan curahan hati yang galau karena asmara yang terluka, namun syarat dengan pesan-pesan yang kuat dengan bahasa Jawa yang masuk kategori ngoko, yang banyak digunakan masyarakat secara umum. "Ternyata Mas Didi melalui karyanya sengaja didedikasikan untuk melestarikan bahasa daerah," urainya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!