Tengku Zul: Komunis Tidak Mati dan Tidak Mungkin Terima Pancasila
Kamis, 01 Oktober 2020 - 09:37 WIB
Pada tahun 1952, tutur dia, datang anak-anak muda komunis, yakni DN Aidit, Nyoto dan lainnya datang bertemu Bung Karno di Pegangsaan Timur 56. "Nah kemudian malam itu diterima DN Aidit dan kawan-kawan ngobrol. Setelah ngobrol, ngobrol, ngobrol, Bung Karno berubah. Kenapa? karena memang dasar pemikiran Bung Karno itu, komponen bangsa itu harus nasional, relijius dan yang ketiga adalah komunis," tuturnya.
Akhirnya apa yang terjadi, kata dia, komunis ini diterima lagi oleh Bung Karno setelah memberontak tahun 1948. Lalu pada pemilu 1955, PKI baru yang afiliasinya sudah ke China dan menjadi pemenang ke-4.
"Kemudian Bung Karno memasukan mereka ke dalam kabinet. Ini pengkhianat (PKI-red) bangsa tahun 1948 ini dimasukan Bung Karno sebagai menteri, menyebabkan Mohammad Hatta menarik diri dari jabatan Wakil Presiden. Hatta tidak mau kerja sama dengan komunis. Lebih memilih menjadi seorang dosen di UGM. Jadilah Presiden Bung Karno, Presiden seorang diri tanpa wakil," tuturnya.
Akhirnya apa yang terjadi, kata dia, komunis ini diterima lagi oleh Bung Karno setelah memberontak tahun 1948. Lalu pada pemilu 1955, PKI baru yang afiliasinya sudah ke China dan menjadi pemenang ke-4.
"Kemudian Bung Karno memasukan mereka ke dalam kabinet. Ini pengkhianat (PKI-red) bangsa tahun 1948 ini dimasukan Bung Karno sebagai menteri, menyebabkan Mohammad Hatta menarik diri dari jabatan Wakil Presiden. Hatta tidak mau kerja sama dengan komunis. Lebih memilih menjadi seorang dosen di UGM. Jadilah Presiden Bung Karno, Presiden seorang diri tanpa wakil," tuturnya.
(dam)
Lihat Juga :