Pengamat Hubungan Internasional: Indonesia Perlu Cermati Dinamika Jelang Pilpres AS 2028

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:51 WIB
Kata Umam, terdapat tiga poros kekuatan yang kini bersaing menentukan masa depan Partai Demokrat. Ketiganya yakni Progressive Democrats (AOC–Bernie Sanders), Moderate Democrats (Pete Buttigieg–Josh Shapiro), dan Establishment Democrats (Kamala Harris–Gavin Newsom). "Pertarungan ini akan menentukan wajah kebijakan Amerika Serikat setelah 2028," ujar Umam dalam keterangannya, Sabtu (25/7/2026).

Umam mengatakan, implikasinya melampaui politik domestik AS. Dalam isu Iran–Israel, menguatnya kubu progresif berpotensi mendorong pendekatan yang lebih kritis terhadap dukungan tanpa syarat kepada Israel, dengan penekanan lebih besar pada diplomasi, hak asasi manusia, dan hukum humaniter internasional. Sebaliknya, kubu moderat cenderung mempertahankan komitmen terhadap aliansi strategis Amerika sambil mengelola eskalasi konflik melalui jalur diplomasi.

"Dalam kompetisi dengan Tiongkok, siapa pun kandidat Demokrat hampir pasti tetap mempertahankan strategi strategic competition. Namun, pendekatannya akan berbeda. Kelompok moderat lebih mengedepankan penguatan aliansi, keamanan, dan daya saing ekonomi, sedangkan kelompok progresif akan mengaitkan persaingan dengan isu perubahan iklim, hak asasi manusia, teknologi, dan keadilan ekonomi global," ujarnya.

Bagi Indonesia, kata Umam, dinamika ini penting untuk dicermati. "Pergantian kepemimpinan di Washington berpotensi mengubah prioritas diplomasi Amerika di kawasan Indo-Pasifik. Indonesia perlu mempertahankan politik luar negeri bebas dan aktif, memperkuat hubungan dengan seluruh kekuatan besar, serta memanfaatkan setiap perubahan konfigurasi politik Amerika Serikat untuk memperluas kerja sama ekonomi, investasi, teknologi, dan keamanan tanpa terjebak dalam rivalitas geopolitik," pungkas mantan wartawan ini.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!