Pengamat Hubungan Internasional: Indonesia Perlu Cermati Dinamika Jelang Pilpres AS 2028
Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:51 WIB
loading...
Ahmad Khoirul Umam. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) akan berlangsung pada 2028. Meski Pilpres AS 2028 digelar dua tahun lagi, Indonesia diminta tetap mencermati dinamika yang tengah berlangsung di Negeri Paman Sam.
Menurut pengamat hubungan internasional yang juga Director of Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam , survei terbaru Granite State Poll, University of New Hampshire Survey Center, menunjukkan bahwa kontestasi menuju Pilpres AS 2028 bukan lagi sekadar persaingan figur, melainkan pertarungan arah ideologi Partai Demokrat.
Umam mengatakan, kenaikan signifikan Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) dari 14% menjadi 22% menandakan menguatnya pengaruh kubu progresif, sementara Pete Buttigieg tetap stabil di kisaran 19–21%, mencerminkan kuatnya basis moderat. Sebaliknya, merosotnya dukungan terhadap Kamala Harris dan Gavin Newsom menunjukkan bahwa kelompok establishment mulai kehilangan dominasi politik.
Baca Juga: Anis Matta soal Politik Luar Negeri Bebas Aktif: Jangan Datang kepada Orang Hanya Waktu Kita Punya Masalah
Kata Umam, terdapat tiga poros kekuatan yang kini bersaing menentukan masa depan Partai Demokrat. Ketiganya yakni Progressive Democrats (AOC–Bernie Sanders), Moderate Democrats (Pete Buttigieg–Josh Shapiro), dan Establishment Democrats (Kamala Harris–Gavin Newsom). "Pertarungan ini akan menentukan wajah kebijakan Amerika Serikat setelah 2028," ujar Umam dalam keterangannya, Sabtu (25/7/2026).
Umam mengatakan, implikasinya melampaui politik domestik AS. Dalam isu Iran–Israel, menguatnya kubu progresif berpotensi mendorong pendekatan yang lebih kritis terhadap dukungan tanpa syarat kepada Israel, dengan penekanan lebih besar pada diplomasi, hak asasi manusia, dan hukum humaniter internasional. Sebaliknya, kubu moderat cenderung mempertahankan komitmen terhadap aliansi strategis Amerika sambil mengelola eskalasi konflik melalui jalur diplomasi.
"Dalam kompetisi dengan Tiongkok, siapa pun kandidat Demokrat hampir pasti tetap mempertahankan strategi strategic competition. Namun, pendekatannya akan berbeda. Kelompok moderat lebih mengedepankan penguatan aliansi, keamanan, dan daya saing ekonomi, sedangkan kelompok progresif akan mengaitkan persaingan dengan isu perubahan iklim, hak asasi manusia, teknologi, dan keadilan ekonomi global," ujarnya.
Bagi Indonesia, kata Umam, dinamika ini penting untuk dicermati. "Pergantian kepemimpinan di Washington berpotensi mengubah prioritas diplomasi Amerika di kawasan Indo-Pasifik. Indonesia perlu mempertahankan politik luar negeri bebas dan aktif, memperkuat hubungan dengan seluruh kekuatan besar, serta memanfaatkan setiap perubahan konfigurasi politik Amerika Serikat untuk memperluas kerja sama ekonomi, investasi, teknologi, dan keamanan tanpa terjebak dalam rivalitas geopolitik," pungkas mantan wartawan ini.
Menurut pengamat hubungan internasional yang juga Director of Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam , survei terbaru Granite State Poll, University of New Hampshire Survey Center, menunjukkan bahwa kontestasi menuju Pilpres AS 2028 bukan lagi sekadar persaingan figur, melainkan pertarungan arah ideologi Partai Demokrat.
Umam mengatakan, kenaikan signifikan Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) dari 14% menjadi 22% menandakan menguatnya pengaruh kubu progresif, sementara Pete Buttigieg tetap stabil di kisaran 19–21%, mencerminkan kuatnya basis moderat. Sebaliknya, merosotnya dukungan terhadap Kamala Harris dan Gavin Newsom menunjukkan bahwa kelompok establishment mulai kehilangan dominasi politik.
Baca Juga: Anis Matta soal Politik Luar Negeri Bebas Aktif: Jangan Datang kepada Orang Hanya Waktu Kita Punya Masalah
Kata Umam, terdapat tiga poros kekuatan yang kini bersaing menentukan masa depan Partai Demokrat. Ketiganya yakni Progressive Democrats (AOC–Bernie Sanders), Moderate Democrats (Pete Buttigieg–Josh Shapiro), dan Establishment Democrats (Kamala Harris–Gavin Newsom). "Pertarungan ini akan menentukan wajah kebijakan Amerika Serikat setelah 2028," ujar Umam dalam keterangannya, Sabtu (25/7/2026).
Umam mengatakan, implikasinya melampaui politik domestik AS. Dalam isu Iran–Israel, menguatnya kubu progresif berpotensi mendorong pendekatan yang lebih kritis terhadap dukungan tanpa syarat kepada Israel, dengan penekanan lebih besar pada diplomasi, hak asasi manusia, dan hukum humaniter internasional. Sebaliknya, kubu moderat cenderung mempertahankan komitmen terhadap aliansi strategis Amerika sambil mengelola eskalasi konflik melalui jalur diplomasi.
"Dalam kompetisi dengan Tiongkok, siapa pun kandidat Demokrat hampir pasti tetap mempertahankan strategi strategic competition. Namun, pendekatannya akan berbeda. Kelompok moderat lebih mengedepankan penguatan aliansi, keamanan, dan daya saing ekonomi, sedangkan kelompok progresif akan mengaitkan persaingan dengan isu perubahan iklim, hak asasi manusia, teknologi, dan keadilan ekonomi global," ujarnya.
Bagi Indonesia, kata Umam, dinamika ini penting untuk dicermati. "Pergantian kepemimpinan di Washington berpotensi mengubah prioritas diplomasi Amerika di kawasan Indo-Pasifik. Indonesia perlu mempertahankan politik luar negeri bebas dan aktif, memperkuat hubungan dengan seluruh kekuatan besar, serta memanfaatkan setiap perubahan konfigurasi politik Amerika Serikat untuk memperluas kerja sama ekonomi, investasi, teknologi, dan keamanan tanpa terjebak dalam rivalitas geopolitik," pungkas mantan wartawan ini.
(zik)
Lihat Juga :