Marak Tuntutan Tebusan, Serangan Pelumpuhan Website di Indonesia Melonjak 62%

Rabu, 17 Juni 2026 - 18:42 WIB
Dari sisi teknis, jumlah serangan multi-vector meningkat sebesar 47% dibandingkan tahun sebelumnya. Saat ini, 62% dari seluruh serangan menggabungkan dua atau lebih vektor serangan, sementara 26% menggabungkan tiga vektor atau lebih. Di sisi lain, serangan probing (pengintaian) meningkat sebesar 81%, sedangkan serangan carpet bombing meningkat sebesar 76%.

Di antara sektor-sektor yang paling sering menjadi target, sektor telekomunikasi menempati posisi pertama dengan menyumbang 26% dari seluruh lalu lintas serangan. Sektor ini diikuti oleh industri hiburan (22%) dan sektor keuangan (17%). Perlu dicatat bahwa industri hiburan menjadi sasaran yang lebih dominan di Indonesia dibandingkan secara global.

Berdasarkan data StormWall, hanya 9% serangan DDoS di seluruh dunia yang menargetkan sektor ini.

"Di Indonesia, serangan DDoS lebih berkaitan dengan uang daripada politik. Salah satu tren yang kami amati adalah meningkatnya aktivitas low-and-slow probing, yaitu serangan berintensitas rendah yang berlangsung secara bertahap, pelaku serangan sengaja menjaga volume lalu lintas tetap berada di bawah ambang deteksi untuk mengidentifikasi titik-titik lemah sebelum melancarkan serangan utama. Hal ini menciptakan risiko yang serius bagi organisasi yang tidak memiliki perlindungan DDoS yang andal," kata Ramli.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!