Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital

Selasa, 16 Juni 2026 - 16:04 WIB
Ketiga, Social Media Amplification. Media sosial berfungsi sebagai pengganda emosi kolektif yang mampu mempercepat penyebaran informasi, solidaritas, maupun kemarahan dalam skala luas.

Keempat, Trigger and Provocation. Dalam banyak peristiwa sosial, terdapat pemicu yang memusatkan perhatian publik dan menjadi simbol yang memobilisasi respons kolektif. Dalam proses berikutnya, disinformasi maupun provokasi dapat memperbesar eskalasi konflik.

Kelima, Broken Social Contract. Kerusuhan cenderung muncul ketika sebagian masyarakat merasa institusi negara tidak lagi memenuhi harapan mereka terkait perlindungan, keadilan, kesempatan ekonomi, maupun respons terhadap aspirasi publik.

Kelima faktor tersebut tidak bekerja secara terpisah. Sebaliknya, mereka saling berinteraksi dan memperkuat satu sama lain. Keresahan ekonomi dapat meningkat di kalangan kelompok rentan digital, diperbesar oleh media sosial, dipicu oleh suatu peristiwa tertentu, dan mencapai titik kritis ketika kepercayaan terhadap institusi publik menurun.

Dalam kerangka tersebut, rumusan sederhananya adalah: Digital Riot = Economic Grievance + Digitally Vulnerable Class + Social Media Amplification + Trigger and Provocation + Broken Social Contract. Sebagai sebuah gagasan teoritis, model ini masih memerlukan pengujian empiris yang lebih luas. Namun, teori ini berupaya menawarkan perspektif yang menghubungkan faktor ekonomi, teknologi digital, emosi kolektif, dan legitimasi institusi dalam satu kerangka analisis.

Pada akhirnya, perubahan sosial yang dipicu teknologi digital menuntut pembaruan cara pandang dalam ilmu sosial. Jika teori-teori klasik lahir untuk menjelaskan masyarakat industri, maka masyarakat yang hidup di bawah pengaruh algoritma dan jaringan digital mungkin memerlukan perangkat analisis yang berbeda.

"Kerusuhan Agustus 2025 dapat dipandang sebagai salah satu momentum yang mendorong lahirnya perdebatan baru mengenai bagaimana masyarakat digital bergerak, berorganisasi, dan mengekspresikan ketidakpuasan mereka di abad ke-21," tuturnya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!