Ajakan Tobat Ekologis Menteri Jumhur Sangat Tepat dan Relevan

Minggu, 07 Juni 2026 - 23:27 WIB
Penanaman pohon memang menjadi salah satu cara penting untuk memperbaiki tutupan lahan, menyerap karbon, menjaga sumber air, mengurangi risiko banjir dan longsor, serta memulihkan ekosistem yang rusak. Tetapi, lanjut Toto, angka dua miliar pohon tidak boleh hanya terdengar besar dalam pidato.

Menurut dia, publik membutuhkan penjelasan yang terukur. Misalnya, pohon apa yang akan ditanam, di mana lokasinya, berapa luas lahan yang tersedia, siapa yang menanam, siapa yang merawat, dari mana anggarannya.

Sebab, menurut Toto, keberhasilan program penghijauan tidak dapat diukur hanya dari jumlah bibit yang ditanam dalam sebuah seremoni. Ukuran sebenarnya adalah berapa banyak pohon yang masih hidup setelah satu tahun, tiga tahun, bahkan sepuluh tahun.

Dari pengalaman selama ini, jelas Toto, menanam itu relatif mudah. Yang sulit adalah memastikan pohon itu tumbuh, dirawat, terlindungi, dan memberi manfaat ekologis maupun ekonomi kepada masyarakat.

Begitu pun, pemilihan jenis pohon juga sangat penting. Pemerintah jangan hanya mengejar jumlah, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian dengan kondisi tanah, iklim, ekosistem, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Toto mencontohkan, di kawasan sumber air, misalnya, harus ditanam pohon yang mampu memperkuat fungsi hidrologis. Di daerah rawan longsor diperlukan tanaman berakar kuat. Di kawasan perkotaan dibutuhkan pohon peneduh dan penyerap polusi.

"Sementara di wilayah perdesaan, dapat dikembangkan tanaman produktif yang sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat," pungkasnya.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!