Ajakan Tobat Ekologis Menteri Jumhur Sangat Tepat dan Relevan

Minggu, 07 Juni 2026 - 23:27 WIB
loading...
Ajakan Tobat Ekologis...
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH M Jumhur Hidayat. Foto/kemenlh.go.id
A A A
JAKARTA - Ajakan Menteri Lingkungan Hidup M Jumhur Hidayat untuk melakukan tobat ekologis dinilai sangat tepat dan relevan dengan problem lingkungan hidup saat ini. Menurut Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA Toto Izul Fatah, ajakan Jumhur tersebut patut disambut positif.

"Ajakan Pak Menteri Jumhur itu patut disambut positif. Momennya sangat tepat," kata Toto Izul Fatah di Jakarta, Minggu (7/6/2026).

Toto yang juga aktivis pengrajin bambu ini berpendapat, istilah tobat ekologis yang digunakan Menteri Jumhur tersebut terasa lebih kuat, menyentuh, dan menggugah dibandingkan berbagai jargon lingkungan yang selama ini sering kita dengar.

Menurut Toto, dalam kata tobat tersimpan sebuah pengakuan yang jujur bahwa manusia telah melakukan kesalahan. Bahkan, dalam konteks spiritual, tobat berarti kesediaan mengakui dosa, menyesalinya, menghentikan perbuatan yang salah, serta berjanji tidak mengulanginya.

Baca Juga: Dilantik Prabowo Jadi Menteri LH, Jumhur: Lingkungan Hidup Harus Jadi Habits di Hati Kita

Karena itu, kata Toto, tobat ekologis seharusnya dimaknai sebagai pengakuan kolektif bahwa selama ini kita memang telah banyak berdosa terhadap alam. Toto menyebut dosa kita menebang hutan tanpa cukup memikirkan pemulihannya.

"Kita juga mengeruk kekayaan bumi tanpa sungguh-sungguh menghitung daya dukung lingkungan. Bahkan, seringkali sungai dijadikan tempat pembuangan limbah, gunung dikeruk, laut dicemari, lahan produktif dialihfungsikan, dan ruang hidup masyarakat sering dikorbankan atas nama pembangunan," ujarnya.

Intinya, kata Toto, alam selama ini lebih banyak dipandang sebagai objek eksploitasi daripada sebagai ruang kehidupan yang harus dihormati dan dijaga.

Karena itu, Toto berpendapat, ajakan tobat ekologis dari Menteri Lingkungan Hidup memiliki pesan yang sangat penting. Ajakan itu seolah mengingatkan bahwa ancaman ekologis yang kita hadapi bukan semata-mata hukuman alam, melainkan konsekuensi dari perbuatan manusia sendiri.

"Banjir, longsor, kekeringan, krisis air bersih, pencemaran udara, kebakaran hutan, kerusakan pesisir, dan meningkatnya suhu bumi tidak datang begitu saja. Di situ ada keserakahan, kelalaian, pembiaran, serta kebijakan yang sering kali tidak ramah terhadap alam," tegasnya.

Namun, Toto menjelaskan, sebagaimana tobat dalam pengertian agama, tobat ekologis tentu tidak cukup berhenti pada ucapan. Tobat harus dibuktikan dengan perubahan sikap dan tindakan.

Tobat tanpa perubahan perilaku, kata Toto, hanya akan menjadi kata-kata. Begitu pula tobat ekologis tanpa perbaikan kebijakan dan kerja nyata hanya akan menjadi slogan yang indah, tetapi kosong.

Karena itu, menurut Toto, ajakan Jumhur Hidayat harus segera diterjemahkan menjadi langkah-langkah konkret. Misalnya, pemerintah harus berani mengevaluasi izin-izin usaha yang merusak lingkungan, menindak perusahaan pencemar, memulihkan kawasan kritis, serta menghentikan praktik pembangunan yang melampaui daya dukung alam.

Selain itu, dalam pandangan Toto, tobat ekologis juga tidak boleh hanya dibebankan kepada rakyat kecil. Jangan sampai masyarakat diminta mengurangi penggunaan plastik dan menanam pohon, sementara industri besar terus membuang limbah, merusak hutan, dan mengeruk sumber daya alam tanpa pengawasan yang tegas.

Toto berpendapat, tobat ekologis harus berlaku untuk semua, mulai dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan setiap individu. Pada bagian lain, Toto juga menyambut positif gagasan menanam dua miliar pohon sebagai langkah yang cerdas dan patut didukung.

Penanaman pohon memang menjadi salah satu cara penting untuk memperbaiki tutupan lahan, menyerap karbon, menjaga sumber air, mengurangi risiko banjir dan longsor, serta memulihkan ekosistem yang rusak. Tetapi, lanjut Toto, angka dua miliar pohon tidak boleh hanya terdengar besar dalam pidato.

Menurut dia, publik membutuhkan penjelasan yang terukur. Misalnya, pohon apa yang akan ditanam, di mana lokasinya, berapa luas lahan yang tersedia, siapa yang menanam, siapa yang merawat, dari mana anggarannya.

Sebab, menurut Toto, keberhasilan program penghijauan tidak dapat diukur hanya dari jumlah bibit yang ditanam dalam sebuah seremoni. Ukuran sebenarnya adalah berapa banyak pohon yang masih hidup setelah satu tahun, tiga tahun, bahkan sepuluh tahun.

Dari pengalaman selama ini, jelas Toto, menanam itu relatif mudah. Yang sulit adalah memastikan pohon itu tumbuh, dirawat, terlindungi, dan memberi manfaat ekologis maupun ekonomi kepada masyarakat.



Begitu pun, pemilihan jenis pohon juga sangat penting. Pemerintah jangan hanya mengejar jumlah, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian dengan kondisi tanah, iklim, ekosistem, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Toto mencontohkan, di kawasan sumber air, misalnya, harus ditanam pohon yang mampu memperkuat fungsi hidrologis. Di daerah rawan longsor diperlukan tanaman berakar kuat. Di kawasan perkotaan dibutuhkan pohon peneduh dan penyerap polusi.

"Sementara di wilayah perdesaan, dapat dikembangkan tanaman produktif yang sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat," pungkasnya.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Salam Prabowo Disampaikan...
Salam Prabowo Disampaikan Jumhur, Raja Charles Beri Pujian untuk Indonesia
Jumhur Hidayat Sampaikan...
Jumhur Hidayat Sampaikan Salam Hangat Presiden Prabowo ke Raja Charles
Jumhur Bertemu Co-Chair...
Jumhur Bertemu Co-Chair IAPB, Dukung Indonesia Kembangkan Biodiversity Credit
Indonesia Berkomitmen...
Indonesia Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja
Pembangunan Tanpa Ekologi:...
Pembangunan Tanpa Ekologi: Keteledoran yang Harus Dibayar Mahal
Ekologi adalah Kesehatan:...
Ekologi adalah Kesehatan: Ketika Dua Visi Besar Emil Salim dan Farid Moeloek Menjadi Keharusan Zaman
Langkah Membumi 2026...
Langkah Membumi 2026 Dimulai, Hadirkan Program Sustainability yang Lebih Pop untuk Anak Muda
Kisah Nabi Daud Bertobat...
Kisah Nabi Daud Bertobat 40 Hari 40 Malam, Diampuni Allah pada 10 Muharram
Aksi Bersih dan Penghijauan...
Aksi Bersih dan Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
Rekomendasi
AEF/MANTENA Cup Jadi...
AEF/MANTENA Cup Jadi Ajang Persiapan Atlet Berkuda Indonesia Menuju Asian Games 2026
Markas Judi Online Hayam...
Markas Judi Online Hayam Wuruk Mirip di Kamboja dan Myanmar
Panda Bond Bakal Dinilai...
Panda Bond Bakal Dinilai Lembaga Rating China, Purbaya Tak Peduli Hasil S&P dan Moody's
Berita Terkini
Jokowi Pakai Baju Berlogo...
Jokowi Pakai Baju Berlogo PSI: Artinya Tahu Sendiri
Bangun Integrasi Hukum...
Bangun Integrasi Hukum dan Seni Lewat Pustaka Nada
Kemhan Beberkan Materi...
Kemhan Beberkan Materi Latihan Fisik Calon Manajer Kopdes: Baris-berbaris hingga Hormat Militer
Boni Hargens: Peningkatan...
Boni Hargens: Peningkatan Kepercayaan Publik kepada Polri Perkuat Stabilitas Demokrasi
DPR Desak Latsarmil...
DPR Desak Latsarmil Peserta SPPI Disetop: Nyawa Jangan Dianggap Enteng!
Saatnya Muktamar NU...
Saatnya Muktamar NU Hadirkan Kepemimpinan yang Tak Lagi Wariskan Pertengkaran Berkepanjangan
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved