Pidato Ekonomi Presiden: Antara Optimisme dan Realitas Pertumbuhan

Minggu, 24 Mei 2026 - 20:20 WIB
Di titik inilah pentingnya penghematan belanja negara, disiplin fiskal, dan keberanian memberantas korupsi. Sebab sebesar apa pun anggaran negara, jika bocor akibat korupsi, mark up proyek, atau birokrasi yang tidak efisien, maka manfaat pembangunan tidak akan sepenuhnya dirasakan masyarakat.

Di sisi lain, target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan mencapai sekitar 5,8–6,5 persen pada tahun 2027 menurut saya merupakan target yang sangat optimistis. Sebab dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bergerak di kisaran 5 persen dan belum menunjukkan lompatan yang terlalu signifikan.

Optimisme tentu penting. Tetapi realitas pertumbuhan ekonomi membutuhkan fondasi yang kuat. Setidaknya ada beberapa faktor utama yang masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia untuk benar-benar mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi secara berkelanjutan.

Pertama, proyek hilirisasi sumber daya alam memang mulai berjalan, tetapi masih sangat terkonsentrasi pada sektor pertambangan, terutama nikel dan mineral lainnya. Padahal semangat hilirisasi seharusnya diperluas ke sektor pertanian, perkebunan, perikanan, hingga industri pangan nasional.

Hilirisasi pada dasarnya adalah upaya meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri. Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah dengan harga murah, tetapi mulai mengolahnya menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi.

Dampaknya sangat besar bagi ekonomi nasional. Hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah ekspor, memperluas sumber penerimaan pajak negara, membuka lapangan kerja, mempercepat alih teknologi, serta meningkatkan kemampuan tenaga kerja nasional dalam proses produksi modern. Karena itu, hilirisasi sesungguhnya dapat menciptakan multiplier effect yang besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kedua, industrialisasi dan pembangunan kawasan industri harus berjalan lebih cepat dan lebih luas. Dengan berkembangnya hilirisasi, maka kebutuhan pembangunan pabrik dan manufaktur otomatis akan meningkat.

Kawasan industri seperti Kawasan Industri Terpadu Batang dan Kendal Industrial Park di Jawa Tengah, kawasan industri nikel di Sulawesi, pembangunan industri di Kalimantan, hingga potensi pengembangan industri di Papua dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Industrialisasi sangat penting karena mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, melahirkan kelas menengah baru, meningkatkan daya beli masyarakat, dan akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Sejarah menunjukkan bahwa hampir semua negara maju bertumpu pada kekuatan industrinya. Korea Selatan, China, dan Jepang berhasil melompat menjadi kekuatan ekonomi dunia karena membangun manufaktur yang kuat, disiplin kerja tinggi, serta investasi besar pada pendidikan dan teknologi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!